Menu

Minggu, 17 April 2022

Ayo Lengkapi Imunisasi pada Bulan Mei

imunisasi-inimila


"Sewaktu balita dulu saya kena polio”, cerita salah satu rekan saya di kantor.

Ia menceritakan ihwal ketidaknormalan bentuk kakinya yang kecil sebelah. Penyakit polio yang menyerang Pak Ferdi (bukan nama sebenarnya) kala itu, untungnya segera ditangani sehingga akhirnya dapat berjalan mandiri dan beraktivitas normal.

Tak sedikit penyandang polio yang harus bergantung selamanya pada orang lain karena virus polio menyerang sistem saraf pusat, menyebabkan kerusakan saraf motorik dan dapat mengakibatkan kelumpuhan permanen, bahkan kematian.

Indonesia telah dinyatakan bebas dari penyakit polio sejak 2014. Namun sebelum seluruh varian polio musnah, ancaman penyakit lumpuh layuh ini masih ada. Di sinilah pentingnya imunisasi dasar termasuk imunisasi polio diberikan lengkap kepada seluruh anak di Indonesia.

Imunisasi bermanfaat untuk mencegah penularan penyakit, wabah, sakit berat, cacat hingga kematian bayi dan balita. Imunisasi dasar lengkap pada anak dapat membantu meningkatkan perlindungan terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. Sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. -  dr. Prima Yosephine (Plt. Dir. Pengelolaan Imunisasi, Kementerian Kesehatan

Selain imunisasi polio, tersedia vaksin untuk mencegah anak dari terjangkit penyakit yang juga dapat mengancam jiwa seperti campak, difteri, tetanus, pertusis, rubela. Imunisasi dasar ini merupakan program Pemerintah yang dapat diperoleh di fasilitas kesehatan umum secara gratis seperti di Puskesmas dan Posyandu. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah, penyelenggaraan imunisasi campak, difteri, dan tetanus, dilaksanakan di sekolah.

Ancaman Penyakit Jika tidak Dilakukan Imunisasi

Saat ini, masih ditemukan varian virus polio tipe 1 di Madagaskar, tipe 2 di 22 negara Asia Afrika, dan tipe 3 di Israel, Palestina, serta Tiongkok. Ini artinya, masih ada ancaman penularan penyakit polio, misalnya melalui kunjungan dari dan ke mancanegera. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si. pada Temu Blogger 12 April 2022 yang lalu mengusung tema "Sehat Kini dan Nanti, Bersama Kita Imunisasi." Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka peringatan Pekan Imunisasi Dunia 2022, bersama narasumber lainnya yaitu Prof.Dr.dr. Hinky Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), M.TropPaed.

akibat-tidak-imunisasi

Pada kesempatan tersebut Prof. Miko juga mengingatkan pentingnya imunisasi dasar maupun imunisasi penyakit lainnya agar dapat melindungi anak dan seluruh keluarga dari berbagai macam penyakit yang menyebabkan kesakitan, kecacatan hingga kematian. Penyakit yang mengancam tersebut adalah : 

1. COVID-19 

Pandemi COVID-19 masih terus mengancam hingga saat ini. Penyakit ini rentan bagi lansia dan anak-anak serta bagi yang mempunyai komorbid. 

Per tanggal 16 April 2022, tercatat penduduk Indonesia yang terkonfirmasi positif adalah 6,04 juta orang dengan angka kematian sebanyak 156.000 orang (covid19.go.id).

Sementara itu anak positif COVID-19 tercatat 808.383 anak dengan sebaran kelompok umur : 

  • 0-5 thn:3% (180,981 anak) 
  • 6 -18 thn:10,4% (627,402 anak)

Saat ini Pemerintah terus menggalakkan vaksinasi ke 1, 2 dan booster bagi masyarakat usia mulai dari 18 tahun hingga lansia. Dan 2 kali vaksinasi untuk usia 6-17 tahun agar tercipta kekebalan populasi (herd immunity). 

2. Campak

Penyakit ini mengancam bayi, balita, anak meyebabkan kejang/radang otak sebanyak 571 kasus dan radang paru/pneumonia sebanyak 2.853 kasus (data tahun 2012-2017). Kasus positif campak sebagian besar diderita oleh anak usia kurang dari 15 tahun, yaitu sebanyak 74% tahun 2021 dan 80% pada 2020.

3. Rubela

Kejadian cacat bawaan karena rubela tercatat sebanyak 1.660 bayi di RS tipe A (2012-2018), dengan berbagai kelainan seperti: 

  • kelainan jantung 
  • buta karena katarak
  • keterbelakangan mental
  • otak tidak berkembang tuli

Kasus positif rubela juga diderita oleh usia <15 tahun yaitu 84% di tahun 2021 dan 80% tahun 2020. 

4. Difteri

Penyakit ini menyebabkan jalan nafas tersumbat, otot jantung rusak, dan dapat menyebabkan kematian. KLB Difteri pernah terjadi pada 2017 -2018, mencakup 33 Provinsi/144 Kabupaten dengan mayoritas penderita usia 5-9 tahun (33%) dan sebagian besar tidak pernah imunisasi (66%). 

5. Lumpuh layuh (polio)

6. Penyakit menular lain seperti tetanus pertusis, hepatitis B, Tuberkulosis, Varicela, meningitis, dan lain-lain. 

(Sumber angka data: Prof. Soedjatmiko, Temu Blogger 12 April 2022

Fakta Cakupan Imunisasi di Indonesia Masa Pandemi

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, sekitar 1.714.471 anak di Indonesia tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap pada 2019-2021. Jumlah tersebut berisiko tinggi menyebabkan kejadian luar biasa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau KLB PD3I.

Selain itu, laporan dari Unicef menyatakan bahwa sejak Indonesia melaporkan kasus COVID-19 pertamanya pada Maret 2020, cakupan imunisasi dasar semakin menurun. Misalnya, angka cakupan imunisasi difteri, pertusis dan tetanus (DPT3) serta campak dan rubela (MR1) berkurang lebih dari 35% pada bulan Mei 2020 dibandingkan periode waktu yang sama tahun sebelumnya. 

Survei daring yang ditujukan kepada orang tua dan pengasuh anak di bawah dua tahun memaparkan perilaku dan praktik mencari layanan imunisasi di Indonesia pun berubah. Sebelum pandemi, sekitar 90% anak diimunisasi di fasilitas umum: 75% di posyandu, 10% di puskesmas, 5% di polindes dan 10% di klinik dan rumah sakit swasta. Namun, selama pandemi COVID-19 responden survei menunjukkan bahwa klinik dan rumah sakit swasta menjadi sumber utama untuk mendapatkan layanan imunisasi untuk anak mereka (lebih dari 43%), puskesmas (29%) dan posyandu (21%). Ini di antaranya disebabkan karena kekhawatiran akan terjangkiti COVID-19, selain karena posyandu sebagian besar ditiadakan selama pandemi. (Sumber : unicef.org) 

Sementara itu, sebuah riset dari Perguruan Tinggi Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran juga memaparkan data menurunnya cakupan imunisasi dasar selama masa pandemi. Dikutip dari The Conversation Indonesia, secara nasional cakupan imunisasi dasar (vaksin hepatitis B, polio, campak, BCG dan pentavalen (DPT-HB-Hib) untuk anak hanya mencapai 57,9%, jauh dari target 93%. Penurunan cakupan imunisasi di Pulau Jawa, sebagai episentrum pandemi COVID-19 dan populasi terpadat, tercatat lebih tinggi dibandingkan luar Jawa. 

Faktor yang mempengaruhi penurunan cakupan imunisasi menurut riset ini adalah: 

  1. Penutupan sebagian layanan Posyandu dan pembatasan layanan Puskesmas
  2. Kekhawatiran orang tua pergi ke pusat layanan kesehatan untuk memvaksin anaknya karena takut terinfeksi COVID-19.
  3. Keraguan terhadap vaksin juga menjadi hambatan. Padahal, sesuai pemaparan Prof. Hindra pada Temu Blogger yang lalu, seluruh vaksin yang diberikan dapat dipastikan aman karena telah melalui serangkaian uji klinis dan ada penelitiannya di seluruh dunia
  4. Kondisi lokasi setempat. Program imunisasi di kota lebih berhasil karena memiliki layanan dan infrastruktur kesehatan yang lebih baik dibanding di desa. 

Pekan Imunisasi Dunia

Pekan Imunisasi Dunia Pekan Imunisasi Dunia 2022 merupakan momen yang penting bagi masyarakat Indonesia untuk mengingatkan dan menyadarkan pentingnya imunisasi dasar lengkap, yang telah menurun selama pandemi COVID-19. Pekan Imunisasi Dunia ini berlangsung 16-22 April 2022, dengan tema Long Live for All

Secara Nasional, akan ada Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) pada Mei mendatang yang dapat dimanfaatkan untuk melengkapi imunisasi yang kurang. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan pun gencar mengingatkan para orang tua untuk segera melengkapi imunisasi anak, terutama yang terlewatkan atau tertinggal karena pandemi, agar kekebalan tubuh anak-anak meningkat.

Imunisasi lengkap dan tambahan akan meningkatkan dan mempertahankan konsentrasi antibodi tetap tinggi dan lebih lama serta membentuk perlindungan lebih lama terhadap bahaya penyakit menular seperti uraian di atas.

Jika ada imunisasi yang belum diberikan sesuai jadwal yang seharusnya, atau imunisasi tertunda, imunisasi harus secepatnya diberikan atau dikejar. - kemkes.go.id

Mengingat pentingnya imunisasi, jika mengetahui ada anak yang belum mendapatkan imunisasi atau belum lengkap, kita perlu turut mengingatkan untuk segera datang ke fasilitas kesehatan yang memberikan layanan imunisasi.

ilustrasi-imunisasi
Ilustrasi imunisasi (Pict: Canva)


Jenis imunisasi dasar lengkap

Beberapa macam imunisasi yang perlu dilengkapi oleh semua anak untuk mencegah berbagai penyakit menular adalah:

Untuk bayi usia 0-11 bulan

  • HB0 untuk mencegah Hepatitis B
  • BCG untuk mencegah tuberkulosis
  • DPT-HB-Hib untuk mencegah difteri, pertusis dan tetanus
  • polio tetes (OPV) 
  • polio suntik (IPV)
  • campak rubela 

Imunisasi lanjutan

Untuk anak usia 18-24 bulan :

  • DPT-HB-Hib 1 
  • campak rubela

Untuk anak sekolah dasar :

  • campak rubela dan Diphteria tetanus (DT) pada anak kelas 1
  • Tetanus diphteria (Td) pada anak kelas 2 dan 5.
Daftar imunisasi rutin lengkap dan dosisnya adalah sebagai berikut.

daftar-imunisasi-rutin


Ayo ayah bunda, paman bibi, kakak, jangan tunda lagi, dan jangan lupa lengkapi imunisasi anak dan keluarga pada bulan Mei nanti ya. 

Rabu, 06 April 2022

Hari Down Syndrome Dunia: Lawan Stigma Karena Semua Setara


Ibu yang terpilih itu bernama Dinda

Tujuh tahun silam, Dinda menikah dengan Randy (keduanya nama samaran), setelah mereka saling mengenal sebagai teman kerja selama 5 tahun. Setahun pernikahan, pasangan ini dikaruniai Amanda, seorang anak spesial yang terdiagnosa Down Syndrome.

Setelah kelahiran Amanda, seketika hidup pasangan suami-istri itu berubah total. Keluarga besar Randy yang berasal dari kalangan "terpelajar" tidak menerima kehadiran Amanda sebagai keluarga. Alasannya, tidak mencerminkan terpelajarnya keluarga itu.

 “Itu bukan anak Randy! Tidak ada riwayat  genetik dalam keluarga kami yang mewarisi kelainan seperti itu,” sahut Ibunda Randy.

Randy sebagai ayah Amanda, tak kuasa membela darah dagingnya sendiri. Ini karena tekanan keluarga besarnya yang terus menerus memaksakan opini, salah satunya keyakinan bahwa kehadiran Amanda merupakan pertanda buruk, atau karena adanya kutukan keluarga Dinda. Penolakan keluarga tersebut pada akhirnya membuat Randy merasa bahwa memiliki anak down syndrome adalah aib yang harus ditutup rapat-rapat. Amanda disembunyikan dari publik.

Kehadiran buah hati sejatinya memberikan kebahagiaan tersendiri. Namun hati dan  perasaan Dinda hancur berantakan. Kesedihannya serasa tak berujung karena Dinda harus merawat Amanda sendirian, sambil menerima perundungan dan cercaan dari keluarga suaminya. Tapi Allah tidak pernah keliru. Ia Maha Tahu siapa yang kuat. Dinda memang ibu yang dipilih-Nya untuk membesarkan bayi spesial itu.

Dinda yang awalnya sulit menerima kenyataan bahwa putrinya menyandang Down Syndrome, lama-lama dapat ikhlas menerima amanah Yang Maha Kuasa. Ia bangkit dan bertekad  membesarkan Amanda dengan penuh kasih sayang dengan segenap kemampuannya.

Namun takdir usia Amanda singkat di dunia. Akibat kelainan jantung yang menyertainya, Amanda berpulang di usia 5 tahun. Tepat sebulan sebelum kepergian Amanda, Randy menceraikan Dinda atas desakan keluarganya.

Ini bukan kisah rekaan. Keluarga teman saya mengalaminya.

Mengenal Down Syndrome

Ada banyak Amanda lain di Indonesia maupun di dunia. Masih banyak pula kasus diskriminasi serta stigma terhadap para penyandang down syndrome dan orang tuanya, hingga saat ini.

Down Sydrome atau Sindrom Down adalah kelainan genetik yang terjadi sejak masa embrio. Embrio normal umumnya menghasilkan 2 salinan kromosom 21. Pada kasus sindrom down, terjadi kesalahan pembelahan sel sehingga menghasilkan salinan 3 kromosom 21 (trisomi 21). Bayi yang lahir dengan kelainan ini punya 47 kromosom, bukan 46 kromosom seperti biasanya.

Tambahan kromosom tersebut mempengaruhi tumbuh kembang anak, menimbulkan ciri yang khas pada struktur wajah, postur tubuh, dan perbedaan ciri fisik lainnya. Orang dengan sindrom ini dapat dikenali dari profil wajahnya yang agak datar dan miring ke atas. Selain tanda fisik, anak yang terlahir dengan kelainan ini juga mengalami keterbatasan mental, gangguan pembelajaran, juga perkembangan perilaku dan kemampuan yang berbeda dari orang normal.

WHO melaporkan, terdapat 1 kejadian sindrom down per 1000-1100 kelahiran di dunia. Dan setiap tahunnya, ada 3000 hingga 5000 anak lahir dengan kelainan ini di seluruh dunia.

Di Indonesia kasusnya  tercatat mengalami peningkatan. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), proporsi kasus sindrom down pada anak meningkat menjadi 0,21% pada tahun 2018.

Dengan membawa filosofi keunikan 3 salinan kromosom 21  itu, setiap tanggal 21 Maret diperingati sebagai Hari Down Syndrome Dunia (HDSD) atau World Down Syndrome Day (WDSD).

Talkshow Ruang Publik KBR

Rabu, 30 Maret 2022 lalu saya menyimak Talkshow Youtube Live di Ruang Publik KBR yang bertajuk Lawan Stigma untuk Dunia yang Setara.


Acara tersebut merupakan kampanye dari NLR Indonesia, organisasi yang fokus pada isu kusta dan pembangunan yang inklusi untuk disabilitas, salah satunya terhadap penyandang down syndrome. Kampanye ini diangkat dalam rangka peringatan Hari Down Syndrome Dunia.

Hadir sebagai narasumber ada dr. Oom Komariah, M.Kes dari POTADS (Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome) sekaligus Ketua Pelaksana Hari Down Syndrome Dunia 2022 dan Uswatun Khasanah (Uswah) dari NLR Indonesia, yang juga merupakan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

Kusta, down syndrome dan ragam disabilitas lainnya sering memperoleh hambatan di masyarakat, tidak mendapat kesempatan yang sama seperti masyarakat lainnya dalam berbagai aspek. Misalnya, dalam hal pergaulan, pendidikan, dan pekerjaan. Padahal, mereka juga memiliki potensi yang jika digali dan dikembangkan dapat menghasilkan manfaat.

Uswah dalam pemaparannya mengisahkan dirinya saat mengidap kusta jenis basah. Ini membuatnya merasa sedih, merasa tidak layak, dan tidak mampu, akibat dikucilkan semasa sekolah. Namun diskriminasi ini membuatnya ingin sembuh dan ingin membuktikan bahwa anggapan masyarakat terhadap penderita kusta itu keliru. 

Uswah pun disiplin mengikuti anjuran dokter dan mengonsumsi obat-obat yang diresepkan hingga 6 bulan lamanya. Saat ini Uswah aktif berkampanye menyuarakan program-program NLR yang meliputi : Zero Transmisi, Zero Disbilitas, Zero Eksklusi. 

Menurut Uswah, diperlukan edukasi terus-menerus melalui kampanye dan literasi kepada masyarakat, agar tidak ada yang berpikiran sempit, khususnya mengenai penderita kusta. Lebih jauh tentang aktivitas NLR Indonesia dapat dilihat di website nlrindonesia.or.id.

Sementara itu, dr. Oom yang merupakan orang tua dari anak pengidap Down Syndrome, juga merasakan bagaimana sedihnya dan tersingkir dari lingkungan. Namun ia kemudian bangkit dan berusaha mengembangkan kemampuan anaknya, saat menyadari bahwa jika dilatih sejak dini, si anak pun dapat dikembangkan berbagai potensinya seperti anak-anak  pada umumnya.

Anak sindrom down cenderung malas karena adanya hipotonus (lemah otot). Oleh karena itu penderita harus terus diberikan stimulasi oleh keluarga atau pendampingnya. 

Berbagi pengalaman pribadinya, dr. Oom menjelaskan, bahwa jika ada salah satu anggota keluarga yang diketahui mengidap down syndrome, jangan diam saja. “Segeralah ke klinik tumbuh kembang, gabung dengan komunitas,” tutur  dr. Oom mengingatkan.

Komunitas menurut dr. Oom menjadi penting karena di sana orang tua atau keluarga penyandang disabilitas dapat memperoleh informasi yang tepat dari orang yang berpengalaman. Dari komunitas kita dapat mengetahui terapi yang tepat, sekolah untuk anak down syndrome, dan informasi penting lainnya. Komunitas juga dapat saling menguatkan antar anggotanya dengan berbagi pengalaman positif.


POTADS sebagai komunitas memiliki program Rumah Ceria Down Syndrome, tempat untuk anak dapat beraktivitas dan mengembangkan potensinya melalui berbagai kegiatan seni, olah raga, bermain, dan belajar bersama. POTADS saat ini memiliki 10 cabang di seluruh Indonesia dan informasi mengenai down syndrome maupun kegiatan komunitas dapat diakses di media sosialnya di Facebook, Instagram, maupun website potads.or.id.

Yuk, kita bersama melawan stigma terhadap kusta, down syndrome maupun disabilitas lainnya. Kita semua sama-sama manusia di hadapan Sang Pencipta. Semoga tidak ada lagi cerita seperti sepenggal kisah Dinda di awal artikel ini.

Kamis, 25 November 2021

Yuk Cek Jadwal Acara Popmama Parenting Academy 2021

Saya pernah merasa heran mengapa zaman milenial tahun 2000-an, banyak bermunculan ilmu-ilmu parenting. Baik dalam bentuk buku, kajian, forum, seminar atau workshop. Keheranan saya adalah apa iya menjadi orang tua itu perlu “sekolah”? Tapi kemudian pikiran saya terbuka, setelah mengalami sendiri betapa kompleks menjadi orang tua zaman now. Kini, saya mengapresiasi semua publikasi dan event parenting, seperti Popmama Parenting Academy 2021.

Popac-2021-cemil



Ilmu parenting nyatanya bermanfaat, terutama bagi orang tua newbie guna meningkatkan kesadaran, sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai pendidik pertama bagi anak sejak usia dini. Dengan ilmu ini, para orang tua dapat memahami stimulus tumbuh kembang anak yang optimal, mengantisipasi tantangan pengasuhan, serta meningkatkan keselarasan pendidikan untuk masa depan si buah hati.

Alasan Perlu Tahu Ilmu Parenting

Adakah papa mama yang pernah merasa gagal mendidik anak?

Pada suatu kesempatan, Najwa Shihab pernah menyatakan bahwa ketakutan terbesarnya sebagai orang tua adalah tak bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Menurut presenter TV yang menikah muda ini, masa gagal sebagai orangtua merupakan fase yang hampir setiap mama akan rasakan. Karena hal tersebut, maka dukungan dari orang-orang sekitar menjadi penting. Termasuk, mama pun harus lebih banyak belajar, update ilmu pengasuhan anak, dan berdiskusi dengan orang tua lainnya. Saya setuju dengan Mbak Nana.

Popmama Parenting Academy merupakan tempat yang pas untuk mengenyam dan update ilmu parenting. Perhelatan tahunan yang digelar oleh popmama.com ini, memasuki tahun ketiga di tahun 2021. Popmama Parenting Academy 2021 atau yang kerap disebut POPAC 2021 dengan seluruh rangkaian acaranya, diharapkan bisa menjadi bekal berharga bagi orang tua milenial dalam menerapkan pola asuh di keluarga.

Acara ini bukan hanya untuk orang tua newbie lho. Semua orang tua baik yang masih menunggu hadirnya buah hati sampai orang tua dengan anak-anak yang sudah beranjak besar dengan tantangannya masing-masing, bisa ikutan acara POPAC.

Rangkaian Acara Popmama parenting Academy 2021


POPAC 2021 akan berlangsung 1 hingga 30 Desember mendatang. Meski diselenggarakan secara virtual karena masih dalam suasana pandemi, rangkaian acara tahun ini tetap menarik untuk diikuti. Dengan mengusung tema Parents Support Parents, nampaknya POPAC kali ini ingin menekankan pentingnya support system, atau sebuah sistem yang saling mendukung untuk mengatasi semua tantangan dalam pengasuhan anak.

Penasaran ada apa saja di Popmama Parenting Academy 2021? Cekidot yuk. Ada 5 acara utama pada gelaran kali ini.

acara-popmama-parenting-academy


1. Webinar

Aneka webinar yang bermanfaat akan digelar untuk mama papa milenial. Temanya sudah pasti akan menarik hati, karena POPAC 2021 punya 4 pilar utama, yaitu : health, education, child abuse, dan financial. Narasumber webinar ini juga bukan kaleng-kaleng. POPAC selalu menghadirkan para pakar yang ahli di bidangnya. Ada dokter, psikolog, story teller, financial planner.

2. Kuliah WhatsApp (Kulwap)

Pada kelas daring melalui WhatsApp ini, mama papa bisa update ilmu parenting nih. Bukan cuma soal pengasuhan anak, tapi juga ilmu lainnya yang bermanfaat untuk keluarga. 

Ini dia narasumber keren yang akan mengisi Parenting Online Class, bulan Desember nanti.

Narasumber-popac-2021
Sumber gambar : Instagram 
@popmama.parenting.academy


3. Content Series

Content Series yang disajikan oleh POPAC 2021 bisa jadi alternatif untuk mama yang tak sempat mengikuti parenting online class

Seri artikelnya komplit serta menarik, dan isinya berharga banget, sayang untuk tidak dilahap. Kategori yang disajikan mulai dari : pregnancy, baby, kid, big kid dan life. Semua bisa diikuti di website POPAC serta di media sosialnya.

4. Popmama Little Star 2021

Punya anak dengan bakat menari, menyanyi, berakting, modeling, atau keahlian dalam olahraga? Yuk, tumbuhkan rasa percaya dirinya dengan mengikuti Popmama Little Star 2021. Kegiatan ini bisa diikuti oleh anak usia 7 - 14 tahun.

Cukup dari rumah saja untuk mengikuti ajang ini, yaitu dengan merekam kebolehan si anak, lalu mempostingnya di akun media sosial milik sendiri atau punya mama. Periode pendaftarannya dari tanggal 15 November sampai 4 Desember 2021, bertabur hadiah jutaan rupiah untuk para finalis.

5. Community Awards

Ada dua kategori pada award ini yaitu Supportive Community dan Educative Community. Penghargaan ini akan diberikan kepada komunitas yang berkontribusi dalam mendukung orang tua Indonesia. Kegiatan ini bisa diikuti beragam komunitas dengan cara menunjukkan aktivitas yang dilakukan.

Pendaftaran Community Awards yang berhadiah uang pembinaan ini ditutup pada 20 November 2021. Pemenangnya akan diumumkan pada Hari Ibu, 22 Desember 2021.

Hanya itu acaranya? Masih ada lagi dong. Jangan lupa pantengin terus deh website Popmama dan media sosialnya Popmama Parenting Academy, agar tak ketinggalan info acaranya.

parents-support-parents

Acara Lainnya di Popmama Parenting Academy 2021


Lomba Blog Popmama Parenting Academy 2021

Buat mama blogger, alias ibu-ibu yang doyan nulis, jangan lewatkan lomba blog ini ya. Selain untuk mengasah kemampuan menulis, tersedia juga hadiah jutaan rupiah untuk pemenangnya. Cuss masih ada waktu sebelum tanggal 30 November 2021. Syarat lengkap dan caranya bisa dicek lebih lanjut di website maupun Instagram POPAC 2021.

Bantu Anak Yatim/Piatu Akibat Covid-19

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia membuat ribuan anak Indonesia kehilangan orang tuanya.

data-covid-popac-2021


Sebagaimana dilansir unicef.org,  kehilangan satu atau kedua orang tua dapat mengancam status gizi, pertumbuhan, dan perkembangan anak-anak. Mereka juga lebih berisiko menjadi korban penelantaran, kekerasan, dan eksploitasi, khususnya bagi bayi dan anak usia muda dari keluarga berpendapatan rendah. 

Kolaborasi popmama.com bareng kitabisa.com ingin menggandeng siapa saja yang mau berdonasi bagi anak-anak malang tersebut. Sesuai tema parents support parents, ini juga salah satu cara yang tepat untuk saling mendukung antar keluarga.

Keran donasi dibuka hingga 31 Desember 2021 nanti, dan dana yang terkumpul akan disalurkan melalui program #KawalMasaDepan.


Peluncuran Buku Panduan Pengasuhan Generasi Pandemi

Masa pandemi ini menjadi tantangan sendiri dalam memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang anak. Untuk itu, Popmama meluncurkan buku panduan untuk mendidik generasi pandemi, yang tentunya akan sangat bermanfaat untuk para orang tua nantinya.  Buku dengan format e-book ini dapat diunduh di situs popmama.com.

Nah itulah rangkaian kegiatan Popmama Parenting Academy 2021. Padat dan bergizi ya. Yuk kita saling support dengan berpartisipasi di acara POPAC 2021.

**
Baca juga:

Sabtu, 25 September 2021

Pengalaman Vaksinasi Covid-19 Untuk Anak di Bogor

vaksinasi-covid-19-cemil

Sejak Juni 2021 di berbagai media diberitakan Kota Bogor mulai mengadakan vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 12 tahun ke atas. Berhubung saya punya duo jagoan usia tanggung, ya saya upayakan untuk dapatkan vaksinasi tersebut. Ini sebagai ikhtiar sehat, tuk melindungi diri dan keluarga dari ancaman pandemi. 

Awalnya informasi vaksinasi 12+ ini kurang tersosialisasi, baik di sekolah maupun lingkungan rumah (RT/RW). Jadi harus saya sendiri yang hunting informasi di berbagai media sosial (medsos). Beruntung juga saya melek (punya akun) berbagai medsos. Gimana kabarnya masyarakat yang tidak pernah bersentuhan dengan gawai yaa? Kasihan juga. Meskipun akhirnya terjamah pun mereka ini jadi orang-orang yang belakangan tahu.

Sumber Informasi Vaksinasi Covid-19 untuk Anak


1. Dinas Kesehatan Kota Bogor

Informasi yang saya kejar pertama kali dari akun Instagram dan Twitter-nya Dinas Kesehatan Kota Bogor. Karena admin di sana selalu woro-woro jika ada link pendaftaran vaksinasi dibuka. 

Cuma, link pendaftaran ini ampun banget deh cepet full. Begitu dibuka pendaftaran, 5000 dosis vaksin tersedia langsung diserbu pendaftar. Dalam 15 menit aja, link sudah ditutup karena sudah terpenuhi.Ini salah satunya karena digabungkannya vaksinasi anak 12+ dan dewasa. Jadi tidak khusus untuk anak saja.

Instagram-dinkes
Info Vaksinasi di Instagram Dinkes Kota Bogor

Dan, saya kan gak selamanya mantengin layar hp atau pegang gadget yak. Jadi, meski sudah dinyalakan notifikasi jika ada update dari @dinkeskotabogor, tetep aja bisa ketinggalan info.

Saya berhasil daftarkan si sulung Zia di Batch 4 vaksinasi massal kota Bogor, berempat di Mall Boxies Tajur. Untungnya sebelum itu saya sudah unduh aplikasi pedulilindungi, dan daftarkan anak-anak untuk vaksinasi di situ. Ini mempercepat saat saya daftar via link yang diberikan Dinkes Kota Bogor. Tapi, selang 5 menit mau daftarkan adiknya, link sudah tidak bisa diakses.

2. Grup WA Sekolah

Informasi yang kedua saya kejar dari Grup WA ortu murid. Seperti emak-emak kebanyakan, saya pun tergabung jadi anggota Grup WA sekolah anak. Bahkan si anak sudah SMP, masih ada aja grup ortu SD. Haha. Gak masalah sih, untuk wadah silaturahim dan berbagi informasi.

Saat sedang gencar vaksinasi, banyak juga instansi/organisasi yang menyelenggarakan vaksinasi massal. Dari grup WA ini, saya banyak juga dapat infonya, tapi sering juga ketinggalan alias sudah full saat mau daftar.

Tapi saya berhasil daftarkan Arkand, anak saya yang kedua dari informasi di Grup WA ini.  Penyelenggaranya DPC PROJO Kota Bogor, bertempat di Wisma Endie Tanah Sareal.

Vaksinasi-wisma-endie
Informasi Vaksinasi di Wisma Endie

Informasi vaksinasi remaja saya perhatikan lebih banyak diselenggarakan di Jakarta. Banyak juga orang tua yang memutuskan mendaftarkan anaknya untuk vaksinasi di Jakarta karena belum banyaknya vaksinasi 12+ di kota Bogor saat itu. Tapi saya sih sabar menanti yang di Bogor aja lah, karena untuk ke Jakarta juga cukup berisiko (saat itu masih zona merah).

3. Grup WA Lingkungan Rumah

Dari awal Juli saya juga gencar bertanya dan mencari informasi vaksinasi 12+ di kompleks perumahan tempat tinggal. Saya pikir, informasi dan pendaftaran vaksinasi itu baiknya turun dari Dinkes kota ke RT/RW agar semua penduduk yang terdata pasti dapat vaksin gratis ini. 

Nyatanya, awal-awal pendistribusian vaksin, hanya vaksin lansia yang segera terinfo dan terlaksana. Sedangkan untuk vaksinasi dewasa dan vaksinasi anak usia 12+ tidak pernah ada informasinya. 

Belakangan, setelah pendaftaran vaksinasi Batch 4 via link ditutup, barulah dibuka pendaftaran lewat RT/RW setempat. Nah si bontot Arkand yang sudah saya daftarkan untuk vaksinasi Covid-19 untuk anak di Wisma Endie, ternyata terdaftar juga di RW untuk divaksin, bertempat di Puri Begawan. Waktunya seminggu lebih cepat dari pada yang di Wisma Endie.

Karena cari yang secepatnya, akhirnya Arkand diputuskan ikut vaksinasi yang di Puri Begawan. Sedangkan yang di Wisma Endie saya batalkan ke panitianya supaya bisa dipakai orang lain slotnya.

Pengalaman Saat Hari-H Vaksinasi Covid-19 untuk Anak


1. Di Mall Boxies

Gara-gara anter anak untuk vaksinasi Covid-19 ini saya jadi "main" deh ke mall. Dan pertama kali juga saya menyambangi Mall Boxies di bilangan Tajur Kota Bogor ini. Entah kapan mall baru ini dibuka. Saya gak ngeh, karena jarang ke daerah sana. Mall ini lumayan unik karena di bagian lobi depan banyak berjejer mobil-mobil antik. Begitu pula di sudut lantai lainnya. Mayan buat spot foto hehe..

Pelaksanaan vaksinasi di Mall Boxies bertempat di Lantai 1. Pertengahan Juli 2021 saat itu toko-toko masih ditutup, hanya tenant makanan/minuman serta alat kesehatan yang dibuka, sehingga mall termasuk sepi. Di lantai itu petugas cukup tertib mengarahkan peserta vaksinasi. Meski vaksinasi Covid-19 untuk anak dan dewasa digabungkan, tapi keramaiannya masih wajar, tidak membludak. Mungkin karena tempatnya juga yang luas. Ada banyak kursi untuk peserta menunggu antrian pemeriksaan, serta ada beberapa meja dengan petugas pemeriksa. 

Ada juga deretan tempat duduk pengantar yang terpisah dengan tempat duduk peserta. Karena peserta vaksinasi tidak boleh diantar, saya duduk menunggu di kursi pengantar. Nyaman, karena ruangan hall-nya ber-AC.

Di awal pintu masuk, peserta antri untuk pemeriksaan dokumen. Petugas menanyakan kelengkapan berkas : kartu kendali vaksinasi (diunduh dari website Dinas Kesehatan Kota Bogor), barcode pendaftaran dari web/aplikasi pedulilindungi, serta fotokopi Kartu Keluarga (karena belum memiliki KTP). Setelah lolos pemeriksaan berkas, peserta diukur suhu, lalu dipersilakan masuk duduk untuk mengantri pemeriksaan lanjutan.

Di meja pertama, petugas menginput data sambil bertanya singkat, lalu lanjut ke meja kedua untuk pemeriksaan tensi dan meja ketiga untuk suntik vaksin. Setelah itu, peserta menunggu namanya dipanggil untuk menerima surat vaksinasi. Dari awal masuk hingga dapat surat  vaksinasi, kelar kurang lebih 30 menit.

meja-periksa-vaksinasi-mal-boxies
Meja periksa vaksinasi

Kurang dari sebulan kemudian, minggu kedua Agustus 2021, adalah jadwal vaksinasi kedua. Di tempat yang sama, proses vaksinasi kala itu beres kurang dari 20 menit. Bravo!!

Vaksinasi-mall-boxies
Vaksinasi ke-2 di Mall Boxies
Lebih kosong dari yang pertama

mal-boxies-tajur
Beres vaksinasi, mejeng ah..

2. Di Puri Begawan

Pengalaman vaksinasi Covid-19 untuk si anak bungsu di tempat lain ini benar-benar jauh berbeda dari si kakak.

Secara jarak, dari rumah ke Puri Begawan yang berlokasi di Jl  Raya Pajajaran ini sangat dekat. Hanya perlu 5 menit berkendara sudah bisa sampai. Makanya saya girang juga begitu anak terdaftar untuk vaksinasi di tempat yang dekat. Untuk yang belum tau, Puri Begawan adalah gedung pertemuan yang sering disewakan untuk berbagai acara. Seperti pernikahan, pameran, sampai konser. Infonya sih ini vaksinasi di Puri Begawan kali ini khusus untuk kecamatan Bogor Timur.

puri-begawan
Puri Begawan (pict: pakuanraya.com)

Dapat jadwal siang hari di awal Agustus 2021, kami datang 1 jam sebelumnya. Ternyata.. antrean panjang sudah mengular di basement parkiran. Tidak hanya masyarakat umum, para ojek online berjaket hijau juga nampak sudah antre lebih dahulu. Bukti antusiasme masyarakat ingin divaksinasi sangat tinggi ya.

Tapi antre di basement boo.. kebayang kan pengapnya, mana harus bermasker pula. Setelah hampir 1 jam mengantre, nyaris sampai di pintu masuk, tiba-tiba petugas mengumumkan silakan kembali besok pagi karena vaksin sudah habis. Alamak!

Saya sempat protes karena ini vaksinasi yang didaftarkan RW, kok bisa-bisanya jatahnya habis?? Tapi disampaikan petugas, ini karena membludaknya orang yang datang. Lah.. kan harusnya yang sudah terdaftar aja ya yang diterima vaksinasi. Beberapa orang terlihat marah-marah karena sudah capek antre lama tapi disuruh pulang.

Video antrean vaksinasi ke-1 di Puri Begawan
Gimana bisa jaga jarak?

Banyak juga yang akhirnya menyerah bubar jalan karena tidak ada kejelasan vaksinasi ini. Saat kami mau melenggang pulang, ada petugas lagi yang teriak-teriak: yang Kartu Keluarganya Bogor Timur silakan masuk! Et dah..

Anak saya dengan gesit langsung lari lagi ke pintu masuk, menunjukkan copy KK yang dibawanya. Alhamdulillah berhasil masuk juga. Saya gak tau kondisi di dalam seperti apa, karena yang boleh masuk hanya peserta vaksin. Arkand bilang melalu chat WA, yang penting sudah bisa duduk nyaman di ruangan ber-AC. Syukurlah.

Proses sejak mengantre sampai selesai divaksin dan mendapat surat vaksin  adalah 3 jam ! Uhuk. Udah sampe Bandung tuh klo naik mobil 3 jam.

Vaksinasi Covid-19 untuk anak dosis kedua dijadwalkan akhir Agustus 2021. Kami datang pagi sebelum jam 8 saat portal secure parking-nya belum difungsikan. Tapi antrean tetap sudah mengular. Ini orang-orang pada datang subuh kali yak 😂. Di tempat yang sama itu, proses vaksinasi kedua kurang lebih 2 jam. Ohemji. Ini penyelenggaranya dinas kesehatan yang sama kan dengan yang di Mal Boxies?

antrean-vaksinasi
Antre Vaksinasi ke-2 di Puri Begawan

Yah sudahlah. Anggap aja perjuangan demi ikut andil mencapai herd immunity. Hihihi. Yang penting sekarang sudah selesai semua divaksinasi full dose.

Efek Vaksinasi Covid-19 untuk Anak

Sejak vaksinasi Covid-19 dilangsungkan, istilah KIPI jadi familiar di telinga. KIPI adalah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi, alias efek yang terjadi setelah seseorang diimunisasi. KIPI ada yang ringan ada yang berat, dan berbeda-beda tiap individu.

Nah, kedua anak saya vaksinasi dengan menggunakan vaksin CoronaVac, vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Tiongkok yang juga memproduksi vaksin Sinovac.  

Sejak vaksinasi pertama hingga yang kedua selesai, tidak ada KIPI yang berarti. Si bungsu hanya merasa sedikit pegal tangan beberapa jam setelah disuntik, lalu berangsur menghilang dengan sendirinya.

Selebihnya, tak ada gejala lainnya. Dan si anak bisa beraktivitas seperti biasa. Alhamdulillah.

Gitu deh sekelumit kisah pengalaman vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 12+. Kalau sekarang, vaksinasi Covid-19 di kota Bogor sepertinya lebih mudah karena banyak diselenggarakan di sekolah-sekolah, dan mungkin antreannya lebih sedikit. Walikota Bogor pun sedang giat melakukan percepatan vaksinasi murid-murid untuk persiapan menghadapi Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Jumat, 04 Juni 2021

Yuk Kita Bicara Menstruasi

Hari itu perut Cemil sakit. Sakitnya aneh, gak seperti biasanya, dan hanya enakan kalau dibawa tidur. Bangun tidur siang, badan Cemil masih kurang enak rasanya. Langsung ke kamar mandi, rasanya ingin mandi dengan air hangat.

Di kamar mandi, Cemil kaget bukan main karena saat pipis warnanya merah darah. Dengan rasa gelisah, Cemil segera lapor ke Ibu tentang kejadian luar biasa itu. Dan ibu langsung bisa menebak, "Kamu haid, De.. yuk belajar pakai pembalut."


Itu secuil kisah saat Cemil kecil alami menarche (menstruasi pertama kali). Kelas 6 SD waktu itu. Sebelumnya Cemil sudah tau "ilmunya" hasil bertanya-tanya kepada Ibu, kenapa perempuan boleh meninggalkan solat dan boleh tidak puasa. Tapi rupanya tetap terkaget-kaget juga, saat mengalami sendiri.

Kisah menstruasi ini kembali terkulik dalam ingatan setelah saya mengikuti webinar "Sehat dan Bersih Saat Menstruasi", 27 Mei 2021 yang lalu. Webinar ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Obstetri & Ginekologi Indonesia (POGI), Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, bekerjasama dengan Mundipharma Indonesia ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan perempuan Indonesia tentang Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM).

Meskipun saya sudah setua ini (umur berapa coba? hehe) ternyata masih banyak bolong juga informasi seputar menstruasi. Alhamdulillah saya merasa bersyukur kemarin ikutan webinar informatif ini, sehingga membuka wawasan saya menjadi lebih luas tentang kesehatan menstruasi. 


FaktaTentang Menstruasi

Setiap tanggal 28 Mei, diperingati Hari Kebersihan Menstruasi. Tentang ini pun saya baru ngeh ada hari peringatan itu. Ternyata, tujuannya adalah  untuk meningkatkan kesadaran perempuan akan pentingnya MKM, sekaligus mematahkan stigma negatif terkait menstruasi yang masih kerap ada di masyarakat. 

Fakta yang diambil dari data Unicef (2020) menyebutkan bahwa 1 dari 4 anak di Indonesia tidak pernah menerima informasi tentang menstruasi sebelum menarche. Kebayang dong, bagaimana bingung atau takutnya si anak, jika ia mengalami "berdarah-darah" yang belum pernah dimengerti sebelumnya. Lebih bingung lagi jika diawali dengan sindrom sebelum datang bulan, seperti sakit perut, kepala, dan payudara, berubah menjadi sensitif (perasa), insomnia, munculnya jerawat, dan lain-lain.

Selain fakta itu, data penelitian yang dipaparkan  oleh dr. Dwi Oktavia Handayani M.Epid.,  menunjukkan bahwa:

  • hanya 5 dari 10 anak perempuan (separuhnya), tahu apa yang harus dilakukan pada saat mengalami menarche; 
  • hanya 6 dari 10 anak (60% atau separuh lebih sedikit) yang bertanya tentang menstruasi kepada ibunya. Namun ironisnya, sang ibu justru jadi sumber kepercayaan, atau mitos yang salah yang merugikan perempuan. 
  • hanya 5 dari 10 anak perempuan (separuhnya) paham untuk mengganti pembalut setiap 4-8 jam. Sisanya, mengganti pembalut 2 kali sehari. Ups, ini sepertinya kebiasaan saya juga deh, kalau haid sudah sedikit keluarnya. Padahal sedikit atau banyak, pembalut tetap harus diganti minimal 4 jam sehari untuk mencegah infeksi di area kewanitaan.
  • hanya 5 dari 10 anak perempuan (separuhnya) yang mencuci tangannya sebelum dan sesudah mengganti pembalut.

Artinya, dari data di atas, kurang lebih hanya separuh anak perempuan yang sudah paham dan melakukan MKM dengan benar.

Fakta lainnya disampaikan oleh Prof.Dr.dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG(K), MPH. Menurut Prof. Dwina, masa menstruasi meningkatkan risiko infeksi. Ini terjadi karena bertambahnya jumlah bakteri buruk di sekitar vagina, akibat keberadaan darah haid yang menimbulkan penurunan tingkat keasaman vagina.  

Karena adanya risiko itu, maka di masa menstruasi penting untuk menerapkan MKM di antaranya:

  • membersihkan vagina secara benar, yaitu dengan menggunakan air bersih mengalir dan dibasuh dengan cairan pembersih antiseptik untuk area kewanitaan.
  • menggunakan pembalut bersih dan kering yang dapat menyerap darah dengan baik
  • mengganti pembalut secara teratur minimal 4 jam sekali. 
  • pemeriksaan oleh dokter diperlukan jika terasa ada gejala tidak normal yang timbul saat menstruasi.

Pengetahuan menstruasi serta manajemen kesehatan menstruasi semacam ini perlu disampaikan oleh ibu kepada anaknya, bahkan sebelum anak mengalami menarche. Tujuannya, agar anak lebih siap sedini mungkin menghadapi gejala dan akibat dari menstruasi.

Tips Bicara Menstruasi kepada Anak

Perlu diingat, pembicaraan mengenai menstruasi bukan hal yang tabu. Proses alamiah yang dialami semua perempuan ini harus diinformasikan dengan benar kepada anak. Daripada ia mencari informasi sendiri dari teman atau internet, khawatir malah mendapatkan info yang keliru. Lebih baik ibunya sendiri yang memberikan informasinya. Tentunya ibu pun harus membekali diri dengan pengetahuan MKM dan cara membicarakannya kepada anak. 


Berikut adalah tips untuk mendiskusikan menstruasi dengan anak dari Anna Surti Ariani S.Psi., M.Si.Psi

  1. Bekali diri ibu dengan informasi yang tepat;
  2. Jangan menganggap tabu bicara menstruasi. Sebaliknya, bicara mengenai hal ini justru penting dilakukan
  3. Topik mengenai menstruasi tidak bisa dibicarakan 1 kali saja. Sebaiknya, lakukan pembicaraan secara bertahap berulangkali;
  4. Tunjukkan sikap positif karena isu mengenai menstruasi bisa sensitif bagi anak perempuan;
  5. Dibandingkan metode menceramahi, ibu lebih baik banyak bertanya dan mendengarkan;
  6. Bicara dengan menjelaskan secara kongkrit menggunakan gambar serta benda yang digunakan saat menstruasi;
  7. Anak laki-laki juga perlu mendapat penjelasan mengenai menstruasi. Tujuannya agar mereka lebih menghargai dan memahami perempuan, atau bahkan membantu jika diperlukan. Misalnya membawakan minuman hangat untuk teman perempuan yang lesu saat menstruasi.

Poin nomor 7 di atas merupakan ilmu baru juga untuk saya, berhubung dua anak saya laki-laki. Saya tidak pernah terpikir menjelaskan kepada mereka tentang menstruasi. Tapi untungnya mereka kritis bertanya kepada bundanya dari hal kecil, seperti "Apa sih artinya datang bulan?", setelah melihat iklan obat nyeri haid di TV. Jadi saya menjelaskan, karena mereka bertanya.

Produk yang Tepat untuk MKM

Bicara soal Manajemen Kesehatan Menstruasi, maka perlu diperhatikan juga alat dan produk yang digunakan. Pembalut yang bersih dan kering adalah salah satu yang wajib tersedia di rumah.

Selain itu, kebersihan area kewanitaan perlu juga dijaga dengan produk pembersih yang terpercaya. Misalnya Betadine Feminine Care yang punya rangkaian produk lengkap untuk mendukung kebersihan dan kesehatan area kewanitaan, tidak hanya untuk saat menstruasi, tapi juga untuk kebutuhan sehari-hari.

Untuk kebersihan sehari–hari, ada Betadine Wash Foam dengan berbagai keharuman dan Sabun Sirih. Produk ini mengandung Prebiotik yang merupakan makanan bakteri baik untuk memberikan perlindungan alami.


Sedangkan untuk masa menstruasi, ada Betadine Feminine Hygiene yang mengandung Povidone–Iodine. Kandungan ini punya spektrum luas dan terbukti mengatasi keputihan berlebih, bau tak sedap, gatal, atau iritasi ringan yang sering terjadi pada saat menstruasi. Produk yang perlu distok saat menstruasi juga ada Betadine Vaginal Douche untuk pertolongan dalam mengatasi jika terjadi infeksi bakteri.

Buat yang suka bepergian, Betadine punya produk Feminime Wipes juga lho. Tisu basah ini praktis untuk dibawa kemanapun sebagai teman yang menjaga area kewanitaan tetap bersih dan higienis.

Seluruh rangkaian produk Betadine untuk wanita ini bisa dibeli di official store Betadine di Tokopedia atau Shopee.

Nah itu hanya sekelumit ilmu dari webinar "Sehat dan Bersih Saat Menstruasi" silam. Informatif banget kan. Apalagi dengan dipandu oleh Novita Angie sebagai MC. Sebagai narasumber dihadirkan berbagai ahli di bidangnya. Ada Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit(P2P), Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Dwi Oktavia, M.Epid., Anggota Pengurus Besar POGI, Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG(K), MPH, Ketua IPK Indonesia Wilayah Jakarta, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi.,Country Manager Mundipharma Indonesia, Mada Shinta Dewi, dan Head of Marketing, Digital & E-Commmerce Mundipharma Indonesia, Adi Prabowo. 

So jangan ragu untuk bicarakan menstruasi dengan putri dan putranya yang beranjak puber ya moms 😉.

Selasa, 02 Maret 2021

4 Hal Ini Harus Dihindari Saat Memandikan Si Kecil

Siapa yang deg-degan saat mandiin si kecil yang masih bayi? Hehe... Wajar kok, memandikan bayi memang bisa jadi pengalaman yang mendebarkan buat orang tua yang baru aja punya si kecil. Jadi ingat, zaman dulu saya mandiin jagoan seringnya minta ditemani Ibu alias si Eyang.  

Nah supaya gak deg-degan, para bunda nih sebaiknya menyiapkan berbagai perlengkapan penting sebelum memandikan bayi. Mulai dari bak mandi bayi, air hangat, spons, dan handuk. Penggunaan sabun khusus seperti Ms Kids Bubble Wash juga harus disediakan ya, jangan pakai sabun dewasa. Plus, perlu juga menghindari beberapa hal berikut ketika memandikan si kecil.

Hal Ini Perlu Dihindari Ketika Memandikan Bayi


1. Jangan Memandikan Saat Si Kecil Lapar Dan Mengantuk

Si kecil yang belum bisa bicara dengan bahasa kita, sebaiknya dituruti kemauannya. Pasalnya, memandikan si kecil saat ia lapar dan mengantuk bisa mempengaruhi kondisi mentalnya menjadi seperti terancam. Akibatnya, waktu memandikan yang salah ini bikin si kecil menangis dan rewel. Kondisi ini bahkan bisa menyebabkan bayi tidak suka mandi.

2. Menggunakan Bak Terlalu Besar

Kondisi tubuh bayi yang kecil sebaiknya disesuaikan dengan penggunaan bak yang kecil pula. Hal ini karena kondisi bak yang kecil dapat memudahkan bunda untuk mengontrol suhu air. Sebaiknya, bak yang terlalu besar seringkali membuat bunda kewalahan. Akibatnya, bunda akan kesulitan memegang bayi yang bisa berdampak pada kecelakaan.

3. Membiarkan Bayi Kedinginan

Sebelum memandikan bayi, sebaiknya bunda mengontrol suhu air yang sesuai. Perlu diingat, jangan melepas baju si kecil jika peralatan mandi belum siap. Hal ini bisa membuat bayi kedinginan sehingga menyebabkan berbagai penyakit mudah menyerang. Selain itu, tidak disarankan pula untuk memandikan si kecil terlalu lama, agar ia tidak kedinginan.

4. Menggunakan Produk Secara Sembarangan

Kulit bayi yang sangat sensitif mengharuskan bunda untuk selektif dalam memilih produk. Pasalnya, pemilihan produk yang tidak tepat dapat membuat bayi merasa tidak nyaman ketika dimandikan. Kondisi ini bahkan bisa berdampak pada alergi kulit jika tidak cocok dengan produknya. Produk sabun bayi yang direkomendasikan adalah Ms Kids Bubble Wash. Sabun ini  punya kandungan bahan-bahan alami seperti avocado oil, royal jelly, aloe vera dan kolagen. Produk ini bahkan sudah teruji klinis dan cocok untuk semua jenis kulit si kecil. Ms Kids Bubble Wash dan produk berkualitas lainnya untuk si kecil bisa diperoleh di https://www.msglowid.com. Lengkap dan aman pastinya.

Tips-memandikan-bayi


So, memandikan bayi sebaiknya dilakukan secara perlahan dan hati-hati ya. Bunda jangan melakukan beberapa hal di atas karena dapat mengancam kesehatan dan keselamatan si kecil. Selain itu, penggunaan produk alami yang berkualitas juga direkomendasikan.

Punya pengalaman saat memandikan bayi pertama kali? Yuk share di kolom komentar.

***

Baca juga:
Me time dengan mandi cantik 😉.