Jumat, 19 Desember 2025

Akar Serabut vs Akar Tunggang: Mana yang Lebih Kuat Menahan Banjir?

Saat bicara soal tanaman, kebanyakan dari kita cuma fokus ke bagian yang kelihatan: batang, daun, bunga, atau buahnya. Padahal, bagian yang paling menentukan keberlangsungan hidup tanaman justru ada di bawah tanah: akarnya. Tahukah bahwa dua jenis akar yang paling umum di Indonesia, yaitu akar serabut dan akar tunggang, punya peran berbeda dalam menjaga keseimbangan alam? Ini khususnya soal penyerapan air dan pencegahan banjir.


Sayangnya, pemahaman soal ini baru terasa penting setelah terjadi bencana. Seperti banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Sumatera pada November 2025 silam, yang dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit. 

Yuk kita belajar lagi tentang akar. Bukan akar soal matematika kok, tapi akar tanaman serabut dan akar tunggang...

Apa Itu Akar Serabut?

Akar serabut biasanya dimiliki oleh tanaman monokotil, seperti padi, bambu, rumput, kelapa sawit, dan pisang. Bentuknya berupa banyak akar kecil yang tumbuh dan menyebar ke segala arah di dekat permukaan tanah.

Karakteristik akar serabut:

  • Menyebar luas di bagian atas tanah  
  • Banyak jumlahnya, tapi ukurannya kecil  
  • Cocok untuk mencegah erosi permukaan  
  • Kurang kuat mencengkeram tanah dalam  

akar-serabut

Keunggulan utama akar serabut adalah kemampuannya menahan erosi di lapisan atas. Kalau ada hujan deras, tanah permukaan tidak mudah hanyut karena ditahan oleh akar-akar kecil ini. Tapi, karena tidak masuk terlalu dalam, sistem perakaran ini tidak dapat memberikan “pegangan” kuat pada tanah saat terjadi tekanan air berlebih.

Palm oil alias kelapa sawit masuk kategori akar serabut. Artinya, meskipun perkebunan sawit terlihat menghijau dan rimbun, kemampuan menjaga kestabilan tanahnya berbeda dibandingkan hutan alami dengan beragam jenis pohon/tanaman.

Apa Itu Akar Tunggang?

Akar tunggang biasanya dimiliki tanaman dikotil atau pohon besar, misalnya jati, mahoni, meranti, pinus, dan beringin, dan berbagai pohon hutan lainnya. Terdiri dari satu akar utama berukuran besar yang tumbuh tegak lurus jauh ke dalam tanah, dengan akar-akar yang tumbuh di percabangannya. Fungsi utamanya adalah untuk memperkokoh berdirinya tanaman dan efektif menyerap air dari lapisan tanah yang lebih dalam. Dengan struktur yang kuat dan panjang, akar ini juga seringkali berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan, seperti pada umbi-umbian.

Karakteristik akar tunggang:

  • Tumbuh dari bagian bawah batang, menonjol keluar  
  • Menancap dalam dan kuat  
  • Menahan pohon dari angin, tekanan air, dan pergerakan tanah  
  • Menyimpan air dalam jumlah besar  

akar-tunggang

Akar tunggang inilah yang membuat pohon-pohon hutan bisa berdiri kokoh puluhan tahun, sekaligus menjaga struktur tanah hingga ke lapisan dalam. Hutan dengan akar tunggang pada dasarnya bekerja seperti penopang alami yang menyerap air hujan, menahan longsor, memperlambat aliran air ke sungai, hingga menjaga debit air tetap stabil.

Hubungan Jenis Akar dengan Banjir 

November lalu, banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Sumatera bukanlah kejadian tiba-tiba. Salah satu faktor penyebabnya adalah hilangnya tutupan hutan yang diganti dengan perkebunan sawit. Ini bukan berarti sawit itu buruk, tapi lebih pada fakta bahwa sawit dan pohon hutan punya fungsi ekologis yang sangat berbeda.

Jika dibandingkan secara sederhana:

Hutan: Akar tunggang dan akar dalam lain mencengkeram tanah kuat, menyerap air hujan, dan mengurangi aliran permukaan.  

Perkebunan sawit: Akar serabut menyebar hanya di lapisan atas, tak mampu menahan tekanan air besar saat curah hujan ekstrem.

Jadi, ketika hujan deras turun terus-menerus di daerah yang banyak kehilangan hutan:

  • Tanah di bekas hutan kehilangan penyangga akar tunggang.  
  • Air hujan tidak terserap secara optimal.  
  • Tanah mudah tergerus dan terbawa ke sungai.  
  • Sungai meluap lebih cepat.  
  • Terjadilah banjir bandang.

Dalam konteks Sumatera, hal ini bukanlah cerita baru. Daerah yang dulunya hutan lebat kini banyak berubah menjadi kebun monokultur sehingga ketahanan ekologis pun menurun.

Pasca banjir di Aceh 2025 yang menyisakan tumpukan kayu gelondongan
(Pict : Antara/Erlangga BP)

Kenapa Kita Perlu Peduli?

Jadi, perbedaan akar serabut dan akar tunggang bukan cuma pelajaran biologi, tapi juga soal masa depan lingkungan hidup dan keselamatan manusia.

Beberapa dampak kehilangan hutan alami:

  1. Banjir lebih sering dan lebih parah  
  2. Longsor mudah terjadi  
  3. Sungai cepat dangkal karena sedimentasi  
  4. Ekosistem lokal rusak
  5. Hewan-hewan terusir dari habitatnya  
  6. Masyarakat di hilir terkena dampaknya.  

Perkebunan sawit memang tetap diperlukan sebagai komoditas ekonomi. Namun, alih fungsi lahan yang tidak terkendali membuat keseimbangan alam jadi terganggu. Yang hilang bukan hanya pohon, tapi juga “sistem penopang alami” yang sudah bekerja ratusan tahun.

Penutup

Memahami perbedaan akar serabut dan akar tunggang jadi dasar untuk bisa paham kenapa perubahan lanskap alami dapat memicu bencana. Ketika hutan dengan pohon-pohon berakar tunggang ditebang dan diganti dengan sawit yang hanya memiliki akar serabut, kita secara tak langsung melemahkan daya tahan tanah terhadap air.

Banjir bandang di Sumatera seyogyanya jadi alarm keras bahwa kita harus lebih bijak mengelola alam. Reboisasi, pelestarian hutan, dan pengaturan ulang tata guna lahan perlu terus dilakukan. Karena pada akhirnya, yang kita jaga bukan hanya tanah atau pohon saja, tapi juga kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup yang tinggal di sekitarnya.

***

Pict : Canva

Jumat, 18 Juli 2025

Review KA Gumarang Eksekutif Jakarta-Surabaya


Saat short trip ke Surabaya akhir Juni lalu, aku berangkat naik Kereta Api Gumarang. Kereta yang dipilih jadwal berangkatnya malam hari pukul 21.30 dari Stasiun Jakarta Pasar Senen dan tiba di Stasiun Surabaya Pasar Turi pukul 07.58, atau 10 jam 28 menit. Sengaja pilih jadwal ini supaya pas sampai Surabaya bisa langsung jalan-jalan, tidak kepagian atau terlalu "subuh" seperti beberapa jadwal lainnya.

Selain pertimbangan jadwal, aku pilih kereta eksekutif Gumarang karena harganya yang masih masuk budget yaitu Rp570k, dibandingkan dengan kelas eksekutif kereta lainnya yang umumnya lebih dari Rp600k. FYI, sebelumnya aku pernah coba naik kelas bisnisnya Gumarang, harga Rp300 ribuan, juga pernah naik kereta ekonomi new generation Jayabaya dan Dharmawangsa dari Jakarta ke Surabaya PP, di kisaran harga Rp230k-Rp270k.

Eh pas sedang nulis cerita ini, baca berita kalau kelas bisnis kereta ke Jawa dipensiunkan gaess diganti dengan kelas ekonomi new generation... Jadi tinggal kenangan deh kelas bisnisnya KA Gumarang. Tapi memang kereta ekonomi new generation itu terasa lebih nyaman dibandingkan kelas bisnis sih, terutama karena kursi ekonomi generasi baru yang mirip dengan kelas eksekutif.  


 

Tiket kereta Gumarang kelas eksekutif aku beli via tiket.com. Tak perlu cetak apapun dari aplikasi ini,karena setelah tiket dibayar, akan ada e-ticket di aplikasi dan di email. Scan barcode pada e-ticket di alat pintu masuk Keberangkatan Stasiun Pasar Senen, lalu akan keluar tiket yang harus ditunjukkan ke petugas di peron. Oya nama di tiket wajib sama dengan ID ya. Jadi kalau udah punya KTP, akan dicek kesesuaian nama tiket dengan KTP. Kalau anak-anak di bawah 17 tahun akan diminta diperlihatkan Kartu Keluarganya.

Interior KA Gumarang

KA Gumarang menurut Wikipedia disebut sebagai rangkaian kereta api campuran terpanjang di Indonesia. Hingga akhir Juni 2025 ia masih membawa 5 gerbong eksekutif + 9 gerbong bisnis + 1 gerbong restorasi, jadi total ada 15 gerbong kereta, selain gerbong kereta pembangkit dan lokomotif. Beberapa fasilitas kereta eksekutif ini aku tampilkan di foto-foto berikut.

Kursi reclining seat - tiap row ada jendela, di atasnya ada bagasi luas untuk menyimpan koper atau tas

Leg rest yang lega dan bisa naik turun. Ini kalau di kelas ekonomi new generation lebih sempit space-nya

Meja makan - ditarik dari lengan kursi

Colokan listrik + tempat gelas pada masing-masing row, di atasnya ada cantolan tuk gantung jaket atau tas

TV di bagian depan tiap gerbong tapi isi siarannya promo KAI 🤣

Selimut gratis - fyi fasilitas ini kalau di kelas ekonomi harus sewa @Rp10k

Aku agak menyesal sedikit karena order tiket KA Gumarang ini tidak jauh-jauh hari. Jadinya dapat tempat duduk yang sebelahan berdua, hanya tinggal tersedia di gerbong Eks-1, which is... Itu gerbong paling depan setelah gerbong lokomotif dan kereta pembangkit. Lebih sedih lagi pas lihat keretanya datang, ternyata gerbong Eks 1 dan 5 jendelanya berbeda dengan gerbong Eks 2-4 yang lebar banget bak kereta panoramik. Di gerbong Eks-1 dan 5 kita dapat jendela kecil seperti di pesawat, tapi untuk masing-masing baris.

Perbedaan jendela gerbong eksekutif 1 dan 2. Kenapa juga sesama eksekutif tapi beda?


Fasilitas lainnya adalah toilet umum di setiap ujung gerbong. Berhubung aku gak pernah mau pakai toilet kereta apapun, jadi gak foto-foto. Tapi menurut anakku sih toiletnya bersih. Dia juga cuma ngeliat aja, gak pakai toiletnya haha..

Satu lagi yang tidak terjamah adalah gerbong restorasi. Sebenarnya ini sedikit bikin penasaran karena konon gerbong makan di KA Gumarang termasuk mewah di kelas kereta jarak jauh. Tapi, berhubung dia posisinya di gerbong 6, dan aku udah mager di gerbong 1 yaa relakan sajalah lah yak.

Penampakan gerbong restorasi KA Gumarang yang mevvah (pict: YouTube @AldyanFanindaN)

Perjalanan dan Kesan

Perjalanan kereta dimulai dari stasiun Pasar Senen Jakarta tepat pukul 21.30, berhenti di stasiun Jatinegara dan Stasiun Bekasi untuk mengambil penumpang. Setelah itu gerbong kereta digelapkan agar penumpang bisa tidur.

Kereta Gumarang AC nya dingin banget dan sentral jadi tidak bisa diatur sendiri ya. Karena udah pernah naik kereta ini sebelumnya (kelas bisnis), so aku udah prepare pakai jaket hangat dan kaos kaki. Dapat selimut kereta malah kutaruh di punggung tuk bantal hehe...

Sepanjang perjalanan beberapa kali Prama/Prami mondar mandir menawarkan makanan dan minuman yang dibawa di troli dorong. Denger-denger sih harga kopi Rp7 ribuan, harga makanan beratnya mulai dari Rp 25k. Bisa juga pesan menu yang dijual di gerbong restorasi dan nanti diantar ke kursi. Berhubung sebelum naik kereta kami sudah makan malam, dan bawa bekal snack juga, jadi aku skip beli di atas kereta. Selain menawarkan makanan, ada juga petugas lain yang lewat menawarkan untuk mengambil sampah.

Sepuluh setengah jam itu perjalanan yang melelahkan kalau kursinya gak nyaman. Beberapa kali aku ganti posisi duduk dan mengatur sandarannya agar dapat posisi ternyaman. Untunglah di kelas eksekutif ini sandarannya bisa direbahkan dengan kemiringan sekitar 130° dan kursinya cukup empuk, ditambah kaki bisa selonjoran, jadi yaa lumayan bisa meluruskan badan.

Kalau ditanya bisa tidur atau tidak, jawabannya: tidak bisa tidur nyenyak saudara-saudara... Alias tidur-bangun tidur-bangun. Padahal, beli tiket eksekutif salah satu harapannya, bisa terlelap hingga Surabaya. Hiks!

Pemandangan pagi dari jendela, lumayan lah meski dapat jendela kecil

KA Gumarang tiba di stasiun Pasar Turi Surabaya pukul 8 lebih 5 menit, telat 7 menit dari jadwal seharusnya pukul 7.58. Alhamdulillaah sampai dengan selamat di Surabaya menyisakan leher yang pegel-pegel. Next sepertinya harus bawa bantal leher deh supaya kepala tersangga lebih enak mengingat posisi rebahnya tidak 180 derajat.

So, apakah kenyamanan KA Gumarang Kelas Eksekutif sesuai dengan harganya? Mungkin sudah tergambar dari cerita di atas ya. Untuk kereta malam yang seyogyanya jadi tempat tidur selama perjalanan, jujurly buat aku belum sesuai ekspektasi. Rasanya hampir sama dengan kelas ekonomi new generation, hanya lebih leluasa untuk kakinya aja. Tapi untuk kebersihan, suasana, pelayanan, dan fasilitas lainnya, no complain. 

Thanks KAI, yang penting perjalanan lancar, selamat sampai Surabaya dengan hati hepii... 😊  

Selasa, 01 Juli 2025

Cerita Short Trip ke Surabaya

Long wiken akhir Juni ini sempat bikin galau. Si adik, anak SMA, mulai libur sekolah 2 minggu lebih. Sementara kakaknya yang kuliah di Surabaya libur juga, tapi ada kegiatan organisasi di bulan Juli. Nanggung kalau si kakak balik ke Bogor, akhirnya diputuskan yang di Bogor ajalah ke Surabaya. 

Eh ternyata si adik ada janji acara pula hari Sabtu malamnya, yang gak mau banget dilewatkan. Jadilah perjalanan dirancang sesingkat mungkin. Berangkat Rabu malam, Sabtu pagi udah di Bogor lagi. Terkesan maksain banget sih, semalam doang di Surabaya, yang dengan perjalanan jadi 3 malam. Tapi its okay lah, biar tetep ada cerita liburan, dan sesekali ngumpulin kakak beradik ini di Surabaya 😊. 

Perjalanan ke Surabaya

Berangkat ke Surabaya, kami naik kereta api (KA) malam Gumarang Jakarta Pasar Senen - Surabaya Pasar Turi kelas eksekutif. Jadwal berangkat pukul 21.30. Sebenarnya ada banyak pilihan kereta lain yang menurut pengalaman "lebih nyaman". Pilihan jatuh ke KA Gumarang dengan pertimbangan sampai di Surabaya pukul 8.00 pagi. 

Jadwal kereta lainnya, ada yang tiba di Surabaya pukul 2 dini hari atau ada juga yang pukul 4 subuh. Berhubung tak ada rencana ke rumah kerabat, kami menghindari tiba di Surabaya sebelum matahari terbit, agar bisa langsung jalan-jalan sebelum check-in hotel jam 2 siang. 

Review naik KA Gumarang Eksekutif nanti aku buat di tulisan berbeda ya 😏.

Jalan-jalan Seputar Surabaya Pusat

Waktu menunjukkan pukul 8 lewat 5 menit di Stasiun Pasar Turi Surabaya saat kereta Gumarang yang kami naiki tiba. Karena belum sarapan, jadi kami rencana sarapan dulu di luar stasiun. Setelah ketemuan dengan si kakak yang memang aku suruh nyamperin ke stasiun, kami berdiskusi mau ke mana. Sebetulnya udah direncanakan sih kalau jalan-jalannya di seputar Surabaya Pusat aja, agar tak jauh dari hotel di daerah Genteng, Surabaya Pusat. 

1. Ke Monumen Kapal Selam

Akhirnya kami putuskan menuju ke Monumen Kapal Selam (Monkasel), yang sudah buka sejak pukul 8.00. Kalau baca beberapa review di Google katanya ada banyak tempat makan di sana, jadi kami pikir sekalian aja cari sarapan di sana. 

Sampai di Monkasel, niat langsung dapat sarapan pupus sudah, karena yang ada kios warung-warung yang hanya menjual minuman dan snack. Ada kantin di bagian dalam pun, tutup atau belum buka. Yaa sudahlah tahan dulu laparnya, kita langsung menuju ke kapal selam... Hehe. 


Monkasel dibangun untuk mengenang KRI Pasopati, kapal selam yang punya peran penting zaman perjuangan Indonesia. Monumen ini dibuka resmi tahun 1998, diresmikan oleh KSAL Laks. Arief Kushariadi dan sampai sekarang jadi salah satu ikon kota Surabaya. Ini kalo untuk orang Surabaya sendiri mungkin bosen lihat monumen kapal selam, karena kapal ini ‘parkir’ permanen di jalan raya protokol, tepatnya di Jl. Pemuda No. 39, Embong Kaliasin, Surabaya. Bisa kelihatan dari jalan, kalau tiap lewat situ. Tapi buat kami yang dari Bogor, ya lumayan penasaran pingin liat isinya. 


KRI Pasopati 410 termasuk kapal selam tipe Whiskey Class buatan Vladivostok, Rusia. Mulai aktif di Angkatan Laut Indonesia sejak 29 Januari 1962, tugasnya cukup berat, mulai dari menyerang kapal musuh, patroli diam-diam, sampai ikut operasi penting seperti Trikora. Kapal lawas ini punya panjang 76,6 meter dan lebar 6,3 meter. 



Berikut foto-foto bagian dalam Monkasel. Untungnya saat itu masih pagi dan hari kerja (Kamis), jadi pengunjung tidak terlalu ramai. Kami menyusuri ruangan kapal selam dari pintu masuk depan sampai pintu keluar belakang, lumayan agak sumpek... padahal pengunjung masih sedikit dan di beberapa ruangan dipasang AC.

Tempat tidur perwira
Pintu antar ruang - ada yang harus menunduk untuk lewat situ. 
Tiga kali lewatin pintu bulat itu, ampun deh kalo orang tua sih susah pasti

Ruang Komandan - sempit hehe..

Ruang komunikasi, ruang mesin, sonar, bilik hitung, kamar mandi
Periskop atau teropong kapal selam

Fasilitas di area Monkasel sendiri cukup lengkap. Ada toilet, musholla, ruang nonton film dokumenter (Video Rama), pertunjukan musik live, dan naik perahu di wisata air Kalimas. Di sekitar lokasi juga ada kios tempat jajan makanan/minuman, kolam renang kecil tuk anak, dan kios suvenir buat oleh-oleh. Oya harga tiket Rp15K perorang sudah include menonton film dokumenter. Tapi kami skip nonton itu, karena tayangnya agak siang. 

Tak terasa sudah sejam lebih kami menjelajah isi kapal selam. Keluar dari Monkasel, hawa panas mulai terasa membakar kulit. Waktu menunjukkan  pukul 10 kurang dan kami belum sarapan juga hahah, sekalian makan siang ini mah 😫.

Saat jalan keluar monumen, kami baru ngeh kalau persis di sebelahnya itu ada mal Plaza Surabaya. Bahkan kita bisa masuk dari parkirannya di dalam. Yo wes lah jalan sedikit ke mal, kami ngadem sambil cari makan. 

Plaza Surabaya buka jam 10 teng dan kami langsung menuju food court-nya untuk isi perut.

2. Ke Kota Lama Surabaya

Selesai makan, di mal muter-muter sebentar, setelah itu kami naik taksi online ke Kota Lama Surabaya. Driver taksol memberikan masukan, kalau ke Kota Lama sebetulnya lebih menarik sore hari untuk view dan foto-foto. Tapi berhubung waktunya tidak memadai, kami tetap ke Kota Lama siang itu. 

Pemandangan Kota Lama yaa... mirip Kota Tua Jakarta, dengan berbagai gedung kuno peninggalan Belanda yang tetap dipertahankan bentuk bangunannya. Ada juga jambatan merah dan pusat grosir Plaza Jembatan Merah. Pusat lokasi Kota Lama adalah taman dengan pohon rindang dan beberapa spot untuk duduk-duduk. Di pinggir taman banyak juga bentor (becak motor) yang menawarkan keliling Kota Tua dengan tarif Rp20K. 

Sudut-sudut Kota Lama Surabaya
Ada replika mobil Jend. Mallaby, Perwira Inggris yang terbunuh tahun 1945

Di salah satu sudut di taman Kota Lama ini juga ada lapangan yang bisa digunakan untuk main basket atau main bola.

Ada beberapa anak sedang main bola saat kami lewat situ, dan cuaca sedang terik. Aku dan si kakak cari tempat ngadem sambil foto-foto, sementara si adik malah nonton bocah main bola. Yah maklum anak yang ini memang hobi bola dan olahraga sejak kecil. 

Saat ditinggal foto-foto, eh taunya dia ikut main bola dong.. Ohemji. Ini anak sok asik apa emang supel banget sampe bisa membaur sama bocil yang gak dikenal?!

Bocah gede nimbrung main bola dengan bocah cilik :))

Komen si adik setelah selesai jadi penjaga gawang: "Seru bunda, ini tuh vibes-nya kayak di Brazil".

"Hah..?"

3. Check in Hotel

Setengah jam menjelang waktu check in, kami beranjak dari Kota Lama menuju hotel. Hotelnya di daerah Genteng, yaitu Surabaya River View. 

Oya kami menclok ke sana kemari itu sebetulnya berdekatan semua tempatnya. Jadi kalau naik taksi online itu dari tadi tarifnya hanya Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu aja. 

Proses check-in di Hotel Surabaya River View (SRV) mudah dan cepat plus dapat harga terbaik booking dari Agoda dengan promo pembayaran pakai Jenius. Aku pilih family room dengan 1 double bed + 1 single bed untuk 3 orang. 

Hotel bintang 3 ini bersih dan punya pool di rooftop-nya lantai 12. Setelah istirahat, menjelang sore anak-anak jagoan itupun berenang di pool hotel. 

Review lengkap hotel ini, nantikan yaa... 😊


4. Makan Malam di Resto AYCE

Aku yang niat mau makan malam khas Surabaya atau Jawa Timuran, terpaksa harus "mengalah" karena keinginan si adik yang ingin menraktir makan di resto all you can eat (AYCE). Ish, kapan lagi ditraktir sama anak... Tak boleh ditolak. Wkwkwk. 

Resto yang dipilih namanya Ikon, Korean AYCE. Letaknya tak terlalu jauh dari hotel, di Jln. Kertajaya 42A, Gubeng, Surabaya. Yang lucu, titik di map taksi online salah. Alhasil sempat bikin kita nyasar masuk gang perumahan. Tenyata posisi Ikon ini di sebrang jalan titik yang salah tadi. 

Makan di Ikon ini yah begitulah, AYCE bukan tipe resto favoritku sih. Tapi anak-anak puas. Interiornya K-Popers banget, menunya banyak dan tidak mengecewakan. 

Berikut pricelist-nya (Juni 2025) :
- Dewasa : Rp132.825 nett/pax
- Anak-anak di bawah 110cm : Free
- Anak-anak 110 cm - di bawah 140 cm : Rp66.412 nett/pax
- Anak-anak 140cm-di atasnya : Harga dewasa

Durasi makan di resto ini 120 menit dan untuk reservasi disyaratkan minimal 4 orang dewasa + DP 50%.

Lebih lengkapnya bisa cek di Instagram resto ini : @ikon_kita.

Dari Ikon tadinya aku niat mlaku-mlaku nang Tunjungan. Ehh ternyata gerimis dong keluar dari resto. Dari pada kepala pening karena kebanyakan daging + kehujanan, akhirnya kami balik ke hotel. 

5. Ke Jl. Tunjungan

Jalan-jalan di Tunjungan kesampean besok harinya setelah kami check-out. Keluar hotel, langsung jalan kaki yang sekitar 500 meter aja sudah sampai ke Jl. Tunjungan. Di sini juga mirip suasana di Braga Bandung, banyak bangunan hotel, dan pertokoan/tempat makan. 

Kami sempat melewati Museum Surabaya Siola yang tutup karena hari itu tanggal merah. Lalu masuk ke FamilyMart besar yang di dalamnya ada barista robot. Si adik pesan kopi americano karena pingin lihat robot beraksi. Dari situ kami sampai di Tunjungan Plaza (TP), yang menurut Wikipedia merupakan mal terbesar kedua di Indonesia. Pusat perbelanjaan ini punya 6 bangunan utama yang saling berhubungan (Tunjungan Plaza 1-6).

Halaman Museum Surabaya Siola

Robot Barista "Omron"
Capek jalan di mal, akhirnya kami isi perut di foodcourt di TP-2 siang itu. 

6. Ke Pusat Oleh-oleh Bu Rudy sebelum Pulang

Di TP mau beli oleh-oleh kok gak ada yang sreg, akhirnya kami keluar mal dan naik taksi online lagi menuju Pusat Oleh-oleh Bu Rudy. Di sini mah gudangnya oleh-oleh. Apa aja ada. 

Setelah sejam di Bu Rudy (lama karena antre kasir), kami pun bergegas menuju Terminal Bungurasih. Tebak naik apa? Perdana naik sleeper bus KYM Trans Surabaya Bogor! 

Kenapa gak naik kereta lagi? Pingin nyobain aja supaya ada pengalaman baru di perjalanan singkat ini. Next lagi yaa cerita tentang sleeper busnya 🤭. 

Okay... Gitu deh cerita short trip ke Surabaya.

Jumat, 28 Februari 2025

Pengalaman Cek Kesehatan Gratis, Kado Ultah Ibu

28 Februari 2025.

Hari ini ibuku ulang tahun ke 85. Barakallaahu fii umrik... Alhamdulillah, semoga sehat wal afiat terus ya Ibu, Eyang tersayang. 

Biasanya, saat Ibu ultah kami sekeluarga anak cucu Ibu, kumpul makan-makan dan berdoa bersama, bisa di rumah atau di rumah makan. Kebersamaan simpel seperti itu saja jadi kebahagiaan tersendiri bagi Ibu. 

Tapi ada yang berbeda pada milad Ibu tahun ini. Yup Ibu dapat kado ulang tahun dari Pemerintah, berupa cek kesehatan gratis tis.. Sebenernya, cek kesehatan bukan hal yang baru buat Ibuku. Ibu adalah orang yang aware dengan kesehatannya sendiri, dan selalu cek darah mandiri di laboratorium minimal setahun 2 kali. 

"Cek lab enggak usah nunggu sakit", ujar ibu mengajarkan kami. Menurut ibu, deteksi dini penyakit jauh lebih baik dari pada pengobatan setelah menderita penyakit. 

Qadarullah tgl 28 Februari ini jatuhnya hari Jumat. Rencana mau Cek Kesehatan Gratis (CKG) hari Sabtu tidak jadi karena Sabtu itu hari pertama puasa Ramadhan. 

Aku yang mengantar Ibu CKG awalnya merasa H2C (harap-harap cemas), karena lokasi yang ditunjuk untuk pemeriksaan cek kesehatan itu hanya Puskesmas. Tidak ada pilihan CKG di Klinik seperti Fasilitas Kesehatan pertama BPJS. 

Puskesmas? Mmm.. Kapan ya terakhir ke Puskesmas? Lewat doang sih sering, sambil melihat antrenya orang-orang yang berobat di sana. Tapi, karena ibu yang semangat '45 untuk CKG di hari lahirnya, aku bela-belain cuti kantor deh tuk nganter ke Puskesmas.
 

Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis

Untuk yang belum tau, CKG adalah program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia dan mengurangi beban penyakit yang bisa dicegah (sumber: kemenkes.go.id). 

CKG menjadi kado ultah dari negara kepada masyarakat Indonesia dan sudah dimulai sejak 10 Februari 2025 yang lalu. Jadi, setiap warga negara yang berulang tahun, berhak memiliki tiket cek kesehatan gratis pada tanggal ulang tahunnya, dengan masa berlaku hingga 30 hari setelah ultah.

Masyarakat yang bisa mendapatkan CKG ini mulai dari bayi/balita, remaja, dewasa, hingga lansia. Untuk anak/remaja usia sekolah (7-17 tahun), kabarnya CKG akan dilaksanakan di sekolah-sekolah pada Juli 2025.

Berikut cara Ibu memperoleh CKG di Puskesmas:
  1. Unduh aplikasi Satu Sehat Mobile di ponsel, isi profil. Fyi, aplikasi ini merupakan pengganti aplikasi PeduliLindungi yang sudah almarhum. Jika kita pernah pakai PeduliLindungi saat zaman Covid-19 dulu, record vaksinasi dan sertifikatnya masih dapat ditemukan di Satu Sehat Mobile.
  2. Setelah mengisi profil, cari fitur Pemeriksaan Kesehatan Gratis. 
  3. Klik tiket pemeriksaan untuk mendaftar 
  4. Pilih lokasi Puskesmas dan tanggal kedatangan (maksimal H+30 setelah tanggal ultah) 
  5. Datang ke Puskesmas pada hari yang telah di-booking di tiket.
Gampang banget kan?
Oya di aplikasi Satu Sehat Mobile, kita juga dapat mendaftarkan anak atau keluarga untuk CKG. Jadi aplikasinya cukup dari 1 ponsel untuk mendaftarkan beberapa orang.

Aplikasi Satu Sehat Mobile & Fitur untuk Daftar CkG

Alternatif pendaftaran CKG lainnya adalah melalui chatbot WhatsApp di nomor 081110500567. Atau, untuk yang tidak memiliki ponsel, bisa juga langsung daftar ke Puskesmas di hari ultahnya. 

Pendaftaran ke Puskesmas tak harus sesuai domisili lho. Bisa pilih Puskesmas beda kecamatan atau bahkan Puskesmas beda kota dengan yang tercantum di KTP, jika kita sedang berada di luar kota.

Ibuku pilih Puskesmas terdekat dan sesuai dengan area KTP, yaitu Puskesmas Bogor Timur.


Akhirnya ke Puskesmas

Saat tiba jadwal CKG Ibu di Puskesmas, itu sebenarnya adalah momen langka, karena sudah berpuluh tahun kami tidak menginjakkan kaki di faskes primer itu hehe...

Datang pukul 7.20 karena khawatir antre, saat itu pengunjung Puskesmas sudah banyak yang datang (sekitar 10-12 orang) dan tampak mengerumuni seseorang yang sedang membagikan nomor antrean. Sementara pintu masuk Puskesmas belum dibuka.

Pintu masuk Puskesmas

"Lansia, balita, ibu hamil, laboratorium, gigi, yang sudah daftar online...", seru orang yang mengangkat tangannya membagi-bagikan tiket nomor. Ternyata pembagian nomor antrean dipisah sesuai kategorinya, dibedakan dengan huruf di depannya. A001, C002, F003, dst. Mirip sih dengan di rumah sakit swasta yang membedakan kode nomor antrean pasien reguler, pasien asuransi, pasien BPJS, dll. Tapi kok metodenya berkerumun rebutan gitu? 

Ada kursi tunggu di halaman Puskesmas, so aku minta Ibu duduk di situ sambil menunggu aku ambil nomor antrean.

"Cek Kesehatan Gratis pak, ambil di sini juga nomornya?" tanyaku agak berteriak di tengah kerumunan.

"Itu nanti langsung aja kalau udah ada petugasnya," jawab si Bapak yang membuatku langsung mundur dari kerumunan. Aku pun duduk di sebelah ibu, menunggu pintu masuk Puskesmas terbuka.

Jam 8 kurang 10 pintu dibuka, di dalam ruangan masih tampak sedang dibersihkan. Ada mesin tiket nomor yang letaknya di dekat pintu masuk, dan ada petugas yang berdiri di sebelahnya.

Aku perhatikan beberapa orang yang baru datang (tapi mungkin udah biasa berobat di situ), menghampiri petugas itu di dalam, meminta nomor. Owh hmm.. ternyata kerumunan tadi hanya untuk membagikan nomor buat yang datang pagi banget sebelum pintu dibuka.  

Penasaran, aku masuk menghampiri si petugas tiket. Saat bilang cek kesehatan gratis, petugas itu tanya apakah sudah daftar di aplikasi. Karena sudah daftar, aku langsung diberikan tiket nomor: G002, yang berarti antrean kedua untuk CKG. Ada skrining mandiri di aplikasi Satu Sehat dan petugas itu mengarahkan aku untuk mengisinya. 


Aku baru tau kalau lansia menjadi prioritas pertama di Puskesmas. "Lansia silahkan masuk, lanjut nomor A1 sampai A10 masuk", sahut petugas mempersilakan pasien masuk saat pukul 8 lebih sedikit. Kami pun masuk.

Kesan Puskesmas zaman dahulu berubah setelah kami melangkah masuk. Ruangannya ber-AC, bersih dan rapi tertata. Ada papan petunjuk di sisi atas menandai bagian/poli di Puskesmas ini. 

Dari pintu masuk terlihat meja pendaftaran dan tangga ke lantai 2. Kursi tunggu pasien berbaris rapi di kanan kirinya. Kursi khusus prioritas ada di barisan paling depan kursi tunggu itu. Mantap deh, Puskesmas ini kini nyaman, serta ramah lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas. 

Ruang tunggu Puskesmas, ada kursi prioritas

Tahapan Cek Kesehatan Gratis

Nomor antrean dipanggil dengan mesin dan tampak di layar TV. Baru duduk sebentar, nomor Ibu dipanggil ke meja pendaftaran dan diminta menyerahkan KTP. Petugas juga memberi form lembaran yang harus diisi. "Setelah diisi nanti ke sini lagi ya, tuker dengan KTP-nya", ujar petugas. 

Aku bantu Ibu isi form, yang isinya kurang lebih sama dengan data diri dan pertanyaan skrining di aplikasi. Setelah selesai, kami diminta menunggu nama Ibu dipanggil meja periksa. Letaknya di depan meja pendaftaran. 

Meja periksa di depan ruang dokter khusus lansia

Nama Ibu dipanggil tak berapa lama, lalu di meja itu Ibu dicek tensi, BB/TB, dan lingkar perut, Selanjutnya menunggu dipanggil dokter di ruangannya yang ternyata khusus pasien lansia. Lima menit kemudian nama Ibu dipanggil lagi, kali ini oleh dokter, untuk masuk ruang periksa. 

"Selamat ulang tahuun... ", sapa Bu Dokter dengan ramah saat kami masuk ruangan. Ibu tertawa kecil lalu mengucapkan terima kasih. Dan, cek kesehatan pun dimulai. 

Beberapa tes kesehatan yang dilakukan di ruang dokter umum untuk lansia adalah sebagai berikut:
1. kesehatan jiwa : ditanya-tanya soal perasaan, kecemasan atau kegelisahan
2. motorik kasar : diminta untuk duduk bangun dari kursi serta mengangkat satu kaki bergantian
3. daya ingat : diberikan 3 kata, lalu diminta menyebutkan kembali kata-kata tersebut selang beberapa waktu
4. motorik halus : diminta untuk menggambar
5. pendengaran: dites apakah mendengar bisikan
6. cek mata : pemeriksaan langsung dengan senter
7. pertanyaan mengenai riwayat penyakit pribadi dan keluarga (hepatitis, diabetes, kanker, jantung, kolesterol, TBC), serta penyakit yang baru diderita 3 bulan terakhir
8. pertanyaan mengenai lifestyle (merokok, olahraga, pola makan). 

Sekitar 20-30 menit Ibu dicek di ruang dokter umum ini. Setelah tes-tes tersebut dilakukan dan datanya diinput langsung via komputer, dokter membuat 3 surat pengantar, yaitu untuk:
1. cek darah
2. cek gigi, dan 
3. tes EKG (elektro kardiografi) 
Dokter mengarahkan, setelah keluar hasilnya, Ibu diminta balik lagi untuk konsultasi. 

Cek darah dilakukan di laboratorium yang  letaknya di belakang Puskesmas. Ada ruang tunggu tersendiri untuk masuk lab, menunggu namanya giliran dipanggil. Pemeriksaan darah yang dilakukan meliputi gula puasa, kolesterol, HDL dan LDL. Waktu menunjukkan pukul 9.35 dan hasil lab bisa diambil pukul 11.30.

Ruang tunggu lab, difoto dari dalam

Dari laboratorium ibu menuju ruang tindakan untuk dites EKG. Posisi ruangannya di tengah-tengah, di sebelah apotek. Namun, petugas di ruang tindakan mengarahkan Ibu untuk ke ruangan lain, yang berada di belakang atas, dekat dengan laboratorium tadi. Tidak ada orang dalam ruangan itu, dan kami diminta menunggu. 

Agak lama kami menunggu karena infonya petugasnya sedang memeriksa calon  haji. Sekitar setengah jam kemudian, datang petugas yang akan melakukan EKG. Tesnya sendiri tidak sampai 10 menit selesai,  dengan oleh-oleh kertas grafik rekam jantung. 

Ruang periksa EKG

Setelah EKG, kami lanjut ke Poli Gigi. Ibu langsung dipersilakan masuk, duduk di kursi tunggu (hanya ada 2 kursi), meskipun sedang ada perawatan pasien di sana. Ada 2 bed khusus untuk tindakan/ perawatan gigi di poli ini. Setelah salah satu pasien selesai, Ibu diminta tiduran di bed untuk diperiksa. 

Pemeriksaan gigi di sini ternyata hanya untuk melihat/observasi kondisi gigi dan gusi. Perawat gigi menuliskan hasil pemeriksaannya di kertas surat pengantar. Selesai, dalam 5 menit ;-). Saking cepetnya, ibu sampai harus diinfo 2 kali kalau pemeriksaan giginya sudah selesai. "Sudah selesai di sini ya bu, ayo Ibu bangun", kata mbak Perawat melihat Ibu yang masih tiduran aja. 

Poli gigi

Waktu itu sekitar pukul 10.30 dan kami harus menunggu hasil cek lab sejam lagi. Akhirnya kami keluar Puskesmas untuk cari makanan/jajanan. Untunglah di sekitar Puskesmas Bogor Timur banyak penjual makanan (gerobak, warung dan rumah makan) karena dekat dengan sekolah SMA. Bahkan ada es krim durian viral lho di sebrang Puskesmas ini. 

Singkat cerita, setelah ambil hasil lab, Ibu kembali ke ruang periksa dokter dengan membawa semua hasil pemeriksaan di Poli lainnya itu. Dokter membacakan hasilnya, lalu merekomendasikan Ibu untuk pemeriksaan lebih lanjut ke Spesialis Mata dan Spesialis Penyakit Dalam. Hanya rekomendasi ya. Bukan memberi rujukan, karena CKG bukan pemeriksaan BPJS.  Jika ingin diberi rujukan dan pengobatan lanjutan gratis, Ibu harus daftar lagi dengan kepesertaan BPJS. 

Selesai, jam 12 kurang, pas sebelum Jum'atan. Total 4 jam lebih kami berada di Puskesmas untuk CKG. 

Kesimpulan 

Disclaimer: kesimpulan cerita ini berlaku sesuai pengalaman CKG di Puskesmas Bogor Timur. Di lokasi lain kemungkinan ada perbedaan.

Nah, kesimpulan dan kesan dari kado CKG di hari ultah Ibu ini bisa disimak berikut.
  • Ternyata Puskesmas sekarang cukup nyaman dengan sistem pelayanan tak kalah dengan rumah sakit besar, khususnya untuk Lansia. 
  • Sepertinya peminat CKG juga sedikit, atau yang ultah di bulan Januari-Februari gak banyak kah?? Jadi tak perlu khawatir antre panjang, karena nomor anteannya pun dipisah. 
  • Program CKG ini sebetulnya sangat bermanfaat dan cukup lengkap khususnya untuk lansia. Namun untuk beberapa hal test-nya terasa kurang akurat karena hanya tes melalui tanya jawab seperti riwayat hepatitis, kanker dan TBC. 
  • Cek Kesehatan Gratis bukan ditujukan untuk pengobatan, namun bila terdeteksi ada penyakit, Puskesmas akan memberikan obat standar gratis. Sedangkan jika perlu penanganan dokter spesialis dan minta rujukan, maka kita perlu daftar ulang dengan BPJS. 

So, berminat ikut CKG? Ini hak kita lho sebagai WNI. Info dari web Kemenkes, nilai CKG setara Rp 1,6 juta sampai Rp 2 juta! 

Btw, ada sedikit tips nih untuk yang mau CKG, hasil pengalamanku mengantar ibu:
  1. Pastikan sudah daftar di Aplikasi Satu Sehat sebelum datang. 
  2. Gunakan baju nyaman yang longgar agar mudah saat dicek darah dan EKG. 
  3. Datang pagi agar dapat nomor awal dan tidak terjebak dalam crowded-nya orang yang berobat. 
  4. Jangan lupa bawa masker. 
  5. Puasa makan sejak malam karena akan dites darah, salah satunya: gula puasa
  6. Bawa bekal makan/snack dan air mineral agar tidak kelaparan/kehausan sambil menunggu giliran
  7. Sediakan waktu seharian dan kesabaran, karena tidak dapat dipastikan selesainya kapan/berapa jam.
*** 

Minggu, 05 Januari 2025

Saputangan, di Manakah Kau Berada?

Kalau ada yang pernah pakai saputangan semasa hidupnya, berarti kemungkinan kita satu generasi.

Ini tulisan random sih, gegara beres-beres lemari lalu menemukan beberapa lembar kain kecil teronggok di pojokan. FYI, sesuai KBBI, kata "saputangan" ditulis menyambung, bukan terpisah ya. Ah, generasi sekarang apakah ada ya, yang kenal dengan selembar kain kotak serbaguna itu? Anakku yang Gen-Z aja taunya "lap", atau "handuk kecil" (karena berbahan handuk). 

Aku pribadi pernah jadi pengguna saputangan, tepatnya semasa sekolah dasar. Dulu ibu selalu menyiapkan saputangan untuk dibawa ke sekolah. Sesuai fungsinya, bekal saputangan itu dimaksudkan untuk mengelap mulut atau keringat. Pada masanya, saputangan juga berguna kalau sedang flu, untuk menutup mulut/hidung saat batuk atau bersin, atau untuk membuang ingus. Penggunaan saputangan ini long lasting alias bisa dipakai dan dicuci berkali-kali.

fungsi_saputangan
Saputangan untuk menyeka hidung

Warna, motif dan bahan saputangan saat itu macam-macam. Untuk anak-anak dibuat saputangan warna warni cerah atau bergambar berbagai macam karakter kartun. Aku ingat dulu pernah punya saputangan bergambar Tweety si burung kuning dan satu lagi bergambar Winny the Pooh. Lucu-lucu banget lho untuk dikoleksi. Saputangan untuk orang dewasa umumnya punya motif lebih kalem seperti garis, kotak-kotak, atau bunga-bunga di tepi kainnya.

Aku juga ingat ada beberapa jenis saputangan eksklusif berharga mahal. Ini biasanya karena diproduksi oleh brand ternama seperti LV, YSL, Pierre Cardin, Polo dan sebagainya. Ada lagi saputangan mahal produksi lokal karena berhias bordiran indah yang limited edition, atau berbahan sutra dengan hiasan eksklusif. Keren deh kalau punya saputangan mahal kayak gitu. 

Sayangnya, kain serbaguna itu kini hilang kepopulerannya. Pernah lihat orang pegang saputangan? Pasti saat ini jadi pemandangan yang langka. Iseng browsing di sebuah marketplace, masih banyak sih yang jual saputangan berbagai jenis. Berarti masih ada pembeli atau pemakai dong ya... Hmm. 

Aku memang tak pernah beli saputangan baru, tapi di rumah ada stok saputangan yang jarang dipakai. Beberapa yang lebih sering dipakai berbahan handuk, digunakan untuk lap keringat setelah olahraga, atau untuk mengompres saat anak demam. Sedangkan yang berbahan tipis, jarang sekali dipakai sendiri dan lebih sering dipinjam ibu saat beliau bepergian.

Mengapa disebut Saputangan

Tiba-tiba aja terllintas di kepala, kenapa sih disebut saputangan? Dari berbagai referensi, ada dua versi mengapa kain itu disebut saputangan.

Pertama, saputangan berasal dari kata sapu dan tangan. Seperti kita ketahui, sapu merupakan alat kebersihan. Begitu pula dengan saputangan yang menjadi alat kebersihan untuk membersihkan bagian tubuh, terutama tangan. Jadilah istilah saputangan.

Kedua, kata saputangan berasal dari kata saput dan tangan. Kata "saput" ada di KBBI artinya lapisan, penutup atau selaput. Dalam konteks ini, saputangan berarti penutup tangan atau lap tangan. Jadi kata saputangan merujuk pada kain yang digunakan untuk menutupi tangan. 

Di sisi lain, kata saputangan dalam bahasa Inggris yaitu handkerchief, berasal dari kata kerchief yang merupakan gabungan 2 kata bahasa Perancis: couvrir (artinya menutupi), dan chef (artinya kepala). Jadi kerchief adalah kain yang dipakai untuk menutupi kepala. Lalu, untuk membedakan saputangan yang kemudian banyak dibawa di saku, ditambahkan kata "hand". Sehingga maknanya handkerchief ini adalah kain penutup untuk menyeka tangan atau hidung.

handkerchiefs
Aneka warna saputangan

Fakta tentang Saputangan

Ada beberapa fakta menarik seputar saputangan yang berhasil aku kumpulkan. Cekidot yuk.
  • Saputangan sudah digunakan pada abad ke 85-87 SM sebagai penyeka keringat, namun terbuat dari jalinan rumput. Ini disebut-sebut dalam karya penyair Romawi kuno, Catulus. Abad ke-1 SM, baru muncul saputangan dari bahan kain yang digunakan oleh masyarakat kelas atas. 
  • King Richard II dari Inggris (1367-1400) disebut sebagai orang pertama yang menggunakan saputangan untuk membersihkan hidungnya.
  • Di Italia pada abad ke-14, muncul pertama kali saputangan dari rami yang dipotong bentuk bujursangkar kecil dan diberi renda-renda. Ini digunakan sebagai alat untuk bertutur sapa dengan cara melambaikan saputangannya.
  • Raja Henri II dari Perancis turut memberi andil penyebaran saputangan yang mahal dan eksklusif, dengan hiasan bordir yang mewah.
  • Saputangan sebagai tanda cinta diduga terinspirasi dari drama Otthelo yang digubah oleh  William Shakespeare pada 1603. 
  • Di Jerman pada abad ke-19, saputangan menjadi hadiah yang umum dari pria yang jatuh hati kepada wanita, atau sebaliknya. 
  • Mulai abad ke-19 pula saputangan menjadi asesoris tak terpisahkan dari gaya berbusana, seperti untuk diselipkan di kantong jas, atau pelengkap busana wanita.
saputangan_saku
Saputangan asesoris jas

  • Dilihat dari bahannya, saputangan  dapat menjadi simbol "kelas" penggunanya. Ini karena saputangan dapat terbuat dari berbagai bahan mulai dari yang mahal seperti sutra, wol, hingga yang murah seperti katun atau bahan handuk.
  • Cara melipat saputangan saku sempat menjadi trend fashion tersendiri yang dibuat oleh berbagai perancang busana.
melipat_saputangan
Contoh lipatan saputangan

  • Di Indonesia, saputangan juga terekam dalam berbagai karya seni. Misalnya, dalam novel karya Nur Iskandar (1944) yang berjudul Cinta Tanah Air, lagu karya Ismail Marzuki (1949) berjudul Saputangan dari Bandung Selatan, serta film besutan Fred Young (1949) berjudul Saputangan.
  • Memberi atau memperoleh hadiah saputangan sering dianggap tabu karena dimitoskan menjadi pertanda akan terjadi kesedihan atau perpisahan. 
  • Tahun 2023, film komedi horor Hanky Panky menceritakan Woody, nama sebuah saputangan berbicara, yang menjadi pahlawan dalam cerita tersebut.
Kesimpulannya apa? Ternyata oh ternyata, saputangan zaman dulu tergolong barang mewah yaa. Wah klo zaman itu udah ada perpajakan, bisa kena PPN 12% dong... Wkwkwk!

Eniwei, ada rasa sedih juga sih keberadaan sang saputangan sekarang tergeser oleh lembaran-lembaran tisu yang disebut lebih praktis. Pasalnya, jika dirunut lebih jauh, bahan kertas -termasuk tisu- itu kontra dengan pelestarian hutan, karena berasal dari kayu yang diperoleh dengan penebangan pepohonan di hutan. 

#tulisanperdana2025

*Sumber : Wikipedia, historia.id
  Pict. : Canva