Jumat, 19 Desember 2025

Akar Serabut vs Akar Tunggang: Mana yang Lebih Kuat Menahan Banjir?

Saat bicara soal tanaman, kebanyakan dari kita cuma fokus ke bagian yang kelihatan: batang, daun, bunga, atau buahnya. Padahal, bagian yang paling menentukan keberlangsungan hidup tanaman justru ada di bawah tanah: akarnya. Tahukah bahwa dua jenis akar yang paling umum di Indonesia, yaitu akar serabut dan akar tunggang, punya peran berbeda dalam menjaga keseimbangan alam? Ini khususnya soal penyerapan air dan pencegahan banjir.


Sayangnya, pemahaman soal ini baru terasa penting setelah terjadi bencana. Seperti banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Sumatera pada November 2025 silam, yang dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit. 

Yuk kita belajar lagi tentang akar. Bukan akar soal matematika kok, tapi akar tanaman serabut dan akar tunggang...

Apa Itu Akar Serabut?

Akar serabut biasanya dimiliki oleh tanaman monokotil, seperti padi, bambu, rumput, kelapa sawit, dan pisang. Bentuknya berupa banyak akar kecil yang tumbuh dan menyebar ke segala arah di dekat permukaan tanah.

Karakteristik akar serabut:

  • Menyebar luas di bagian atas tanah  
  • Banyak jumlahnya, tapi ukurannya kecil  
  • Cocok untuk mencegah erosi permukaan  
  • Kurang kuat mencengkeram tanah dalam  

akar-serabut

Keunggulan utama akar serabut adalah kemampuannya menahan erosi di lapisan atas. Kalau ada hujan deras, tanah permukaan tidak mudah hanyut karena ditahan oleh akar-akar kecil ini. Tapi, karena tidak masuk terlalu dalam, sistem perakaran ini tidak dapat memberikan “pegangan” kuat pada tanah saat terjadi tekanan air berlebih.

Kelapa sawit (Elaeis guineensis) termasuk kategori akar serabut. Artinya, meskipun perkebunan sawit terlihat menghijau dan rimbun, kemampuannya menjaga kestabilan tanah tidak sebesar kemampuan hutan alami dengan beragam jenis pohon/tanaman.

Apa Itu Akar Tunggang?

Akar tunggang biasanya dimiliki tanaman dikotil atau pohon besar, misalnya jati, mahoni, meranti, pinus, dan beringin, dan berbagai pohon hutan lainnya. Terdiri dari satu akar utama berukuran besar yang tumbuh tegak lurus jauh ke dalam tanah, dengan akar-akar yang tumbuh di percabangannya. Fungsi utamanya adalah untuk memperkokoh berdirinya tanaman dan efektif menyerap air dari lapisan tanah yang lebih dalam. Dengan struktur yang kuat dan panjang, akar ini juga seringkali berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan, seperti pada umbi-umbian.

Karakteristik akar tunggang:

  • Tumbuh dari bagian bawah batang, menonjol keluar  
  • Menancap dalam dan kuat  
  • Menahan pohon dari angin, tekanan air, dan pergerakan tanah  
  • Menyimpan air dalam jumlah besar  

akar-tunggang

Akar tunggang inilah yang membuat pohon-pohon hutan bisa berdiri kokoh puluhan tahun, sekaligus menjaga struktur tanah hingga ke lapisan dalam. Hutan dengan akar tunggang pada dasarnya bekerja seperti penopang alami yang menyerap air hujan, menahan longsor, memperlambat aliran air ke sungai, hingga menjaga debit air tetap stabil.

Hubungan Jenis Akar dengan Banjir 

November lalu, banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Sumatera bukanlah kejadian tiba-tiba. Salah satu faktor penyebabnya adalah hilangnya tutupan hutan yang diganti dengan perkebunan sawit. Ini bukan berarti sawit itu buruk, tapi lebih pada fakta bahwa sawit dan pohon hutan punya fungsi ekologis yang sangat berbeda.

Jika dibandingkan secara sederhana:

Hutan: Akar tunggang dan akar dalam lain mencengkeram tanah kuat, menyerap air hujan, dan mengurangi aliran permukaan.  

Perkebunan sawit: Akar serabut menyebar hanya di lapisan atas, tak mampu menahan tekanan air besar saat curah hujan ekstrem.

Jadi, ketika hujan deras turun terus-menerus di daerah yang banyak kehilangan hutan:

  • Tanah di bekas hutan kehilangan penyangga akar tunggang.  
  • Air hujan tidak terserap secara optimal.  
  • Tanah mudah tergerus dan terbawa ke sungai.  
  • Sungai meluap lebih cepat.  
  • Terjadilah banjir bandang.

Dalam konteks Sumatera, hal ini bukanlah cerita baru. Daerah yang dulunya hutan lebat kini banyak berubah menjadi kebun monokultur sehingga ketahanan ekologis pun menurun.

Pasca banjir di Aceh 2025 yang menyisakan tumpukan kayu gelondongan
(Pict : Antara/Erlangga BP)

Kenapa Kita Perlu Peduli?

Jadi, perbedaan akar serabut dan akar tunggang bukan cuma pelajaran biologi, tapi juga soal masa depan lingkungan hidup dan keselamatan manusia.

Beberapa dampak kehilangan hutan alami:

  1. Banjir lebih sering dan lebih parah  
  2. Longsor mudah terjadi  
  3. Sungai cepat dangkal karena sedimentasi  
  4. Ekosistem lokal rusak
  5. Hewan-hewan terusir dari habitatnya  
  6. Masyarakat di hilir terkena dampaknya.  

Perkebunan sawit memang tetap diperlukan sebagai komoditas ekonomi. Namun, alih fungsi lahan yang tidak terkendali membuat keseimbangan alam jadi terganggu. Yang hilang bukan hanya pohon, tapi juga “sistem penopang alami” yang sudah bekerja ratusan tahun.

Penutup

Memahami perbedaan akar serabut dan akar tunggang jadi dasar untuk bisa paham kenapa perubahan lanskap alami dapat memicu bencana. Ketika hutan dengan pohon-pohon berakar tunggang ditebang dan diganti dengan sawit yang hanya memiliki akar serabut, kita secara tak langsung melemahkan daya tahan tanah terhadap air.

Banjir bandang di Sumatera seyogyanya jadi alarm keras bahwa kita harus lebih bijak mengelola alam. Reboisasi, pelestarian hutan, dan pengaturan ulang tata guna lahan perlu terus dilakukan. Karena pada akhirnya, yang kita jaga bukan hanya tanah atau pohon saja, tapi juga kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup yang tinggal di sekitarnya.

***

Pict : Canva

Latest
Next Post

Lifestyle blogger, reviewer, content writer

16 komentar:

  1. Baca tulisan ini tetiba ingat pelajaran IPA di bangku sekolah tentang pohon dikotil dan monokotil. Juga, tentang akar serabut dan tunjang yang sebenarnya sudah dipelajari di bangku sekolah. Sayangnya, realita di lapangan berkata sebaliknya. Meskipun kita sudah memiliki pengetahuan itu di bangku sekolah, masih banyak lahan yang overgrown dengan tanaman akar serabut sehingga sangat rentan terhadap banjir dan derai hujan yang berlebihan.

    BalasHapus
  2. Penjelasan perbedaan jenis akar ini mudah dipahami, apalagi dilengkapi fungsi dan contohnya, jadi cocok buat belajar tanpa terasa seperti baca buku pelajaran

    BalasHapus
  3. Menarik kak topik ini. Jadi teringat sumatra dengan kelapa sawit, akibatnya menjadi banjir karena akar serabut yang ga bisa menahan air dan terjadilah banjir bandang...

    BalasHapus
  4. Artikel ini cukup membuka wawasan, karena menjelaskan perbedaan akar serabut dan akar tunggang dengan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jadi kelihatan jelas kenapa jenis akar tertentu lebih berpengaruh terhadap kondisi tanah dan risiko banjir.

    BalasHapus
  5. Pohon berdaun lebar dan pendek adalah salah satu pohon yang mempunyai akar penguat tanah yang menyerap banyak air serta daya cengkeram pada tanah sehingga tidak mudah longsor.

    BalasHapus
  6. Penjelasan yang lengkap soal beda akar serabut dan akar tunggang dan mana yang lebih kuat menahan banjir..terimakasih jadi diingatkan tentang ini.
    Bicara soal alih fungsi lahan, secara keseluruhan, setuju..meski ada potensi ekonomi, dampak negatif alih fungsi lahan menjadi sawit seringkali sangat signifikan dan merusak ekosistem serta kesejahteraan jangka panjang, sebuah isu lingkungan krusial di Indonesia yang mesti dituntaskan

    BalasHapus
  7. saya baru sadar kalau perbedaan biologis sekecil struktur akar bisa berdampak sistemik terhadap bencana sebesar banjir bandang di Sumatera kemarin.
    Seringkali kita hanya melihat sisi ekonomi dari alih fungsi lahan, tapi lupa bahwa alam punya "teknologi" penopang sendiri lewat akar tunggang. Memang sawit punya nilai plus, tapi keseimbangan ekosistem tetap nomor satu. Komentar ini mengingatkan kita kalau mencintai lingkungan itu harus sampai ke akar-akarnya—secara harfiah!

    BalasHapus
  8. Saya memilih menanam pohon berakar tunggang di halaman, seperti mangga. Kenapa? Karena selain kuat menahan tanah, juga akarnya tidak merusak pondasi atau tembok bangunan.
    Tapi tanaman yg berakar serabut juga saya tanam kok
    Semuanya juga kita butuhkan ya...

    BalasHapus
  9. Wah saya jadi ingat pelajaran biologi mbak Mila. Hehehe...
    Dan bener keberadaan hutan tuh fondasi kita bisa lebih aman dari bencana. Pohon² di hutan dengan akar tunggangnya punya manfaat untuk menangkal banjir. Lalu, pohonnya sendiri bisa menambah produksi oksigen di bumi, kalau hutan nggak ada nggak bisa kebayang aku.🥲

    Jangan lagi bilang sawit itu .... #eh.. 🤭

    BalasHapus
  10. Thank you artikelnya, aku pikir malah pohon2 di hutan tu akarnya serabut ternyata sebaliknya justru yang tunggang yaa yang kuat tuh.
    Setuju banget kita semua perlu peduli, apalagi nih orang yang dipercaya memimpin negara ini dengan bodohnya menyebut sawit itu sama aja dengan pohon.
    Jangan cuek, mulai edukasi orang2 di sekeliling kita untuk peduli sama lingkungan, karena dari tahun ke tahun kondisi makin parah, ya berita longsor, ya berita banjir, bahkan kemarin rame2 perumahan yang merubah fungsi lahan dari sawah malah jadi rumah.
    Semoga ke depannya makin baik dan bisa mencegah bencana2.

    BalasHapus
  11. Entah kenapa, baca judulnya doang udah ada bayangan sawit yang akan dibahas wkwkkwk. Tapi ya emang gini sih Konoha. Cape sendiri. Kita uda tereak koar-koar menyuarakan sawit, tapi mana?? Katanya yang dinamain pohon tuh yang penting ada daunnya, cabe ge ada daunnyaaa huhuuu..

    BalasHapus
  12. Pastinya hutan itu pohonnya beragam, bukan seragam. Dengan kejadian bencana, otomatis juga mengingatkan saya tentang akar. Zaman sekolah sering banget belajar tentang akar ini. Saya yakin yang membabat hutan pun belajar, cuma memang lebih peduli ma uang kali ya :(

    BalasHapus
  13. akar serabut hanya bagian permukaan sedangkan pepohonan selain akar tunggang akar akar kecilnya bisa menjalar jauh sehingga ccocok untuk tanaman hutan perbukitan agar tak terjadi longsor seperti di sumatera beberapa waktu lalu

    BalasHapus
  14. Nah iya, penting banget kembali diingatkan perbedaan mendasar dari akar pohon. Intinya akar tunggang lah yang bisa menahan dan menyerap air lebih banyak. Maka tak heran kalau bencana mudah terjadi kalau area hutan dengan pepohonan ber-akar tunggang di babat dan diganti sama sawit. Be aware, semoga saja kita semua masyarakat tau basic nya dan bisa mencegah terjadinya hal serupa di daerah lain. Mestilah kita lebih jeli dan aktif bersuara bila ada penebangan hutan demi sawit. Bahaya banget impact nya. Jadi macam bencana yang terjadi ulah sekelompok orang yang egois.

    BalasHapus
  15. Se etulnya soal akar ini sudah dikenal sejak zaman kita sekolah SMP dulu. Tapi ya gitu deh kebiasaan kita. Ilmu nggak dipakai dalam kehidupan keseharian.

    BalasHapus
  16. Wah, baru ngeh kalau jenis akar itu berpengaruh banget ke banjir. Serabut buat erosi, tunggang kuat nahan tanah dalam.

    BalasHapus