Saat bicara soal tanaman, kebanyakan dari kita cuma fokus ke bagian yang kelihatan: batang, daun, bunga, atau buahnya. Padahal, bagian yang paling menentukan keberlangsungan hidup tanaman justru ada di bawah tanah: akarnya. Tahukah bahwa dua jenis akar yang paling umum di Indonesia, yaitu akar serabut dan akar tunggang, punya peran berbeda dalam menjaga keseimbangan alam? Ini khususnya soal penyerapan air dan pencegahan banjir.
Sayangnya, pemahaman soal ini baru terasa penting setelah terjadi bencana. Seperti banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Sumatera pada November 2025 silam, yang dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit.
Yuk kita belajar lagi tentang akar. Bukan akar soal matematika kok, tapi akar tanaman serabut dan akar tunggang...
Apa Itu Akar Serabut?
Akar serabut biasanya dimiliki oleh tanaman monokotil, seperti padi, bambu, rumput, kelapa sawit, dan pisang. Bentuknya berupa banyak akar kecil yang tumbuh dan menyebar ke segala arah di dekat permukaan tanah.
Karakteristik akar serabut:
- Menyebar luas di bagian atas tanah
- Banyak jumlahnya, tapi ukurannya kecil
- Cocok untuk mencegah erosi permukaan
- Kurang kuat mencengkeram tanah dalam
Keunggulan utama akar serabut adalah kemampuannya menahan erosi di lapisan atas. Kalau ada hujan deras, tanah permukaan tidak mudah hanyut karena ditahan oleh akar-akar kecil ini. Tapi, karena tidak masuk terlalu dalam, sistem perakaran ini tidak dapat memberikan “pegangan” kuat pada tanah saat terjadi tekanan air berlebih.
Palm oil alias kelapa sawit masuk kategori akar serabut. Artinya, meskipun perkebunan sawit terlihat menghijau dan rimbun, kemampuan menjaga kestabilan tanahnya berbeda dibandingkan hutan alami dengan beragam jenis pohon/tanaman.
Apa Itu Akar Tunggang?
Akar tunggang biasanya dimiliki tanaman dikotil atau pohon besar, misalnya jati, mahoni, meranti, pinus, dan beringin, dan berbagai pohon hutan lainnya. Terdiri dari satu akar utama berukuran besar yang tumbuh tegak lurus jauh ke dalam tanah, dengan akar-akar yang tumbuh di percabangannya. Fungsi utamanya adalah untuk memperkokoh berdirinya tanaman dan efektif menyerap air dari lapisan tanah yang lebih dalam. Dengan struktur yang kuat dan panjang, akar ini juga seringkali berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan, seperti pada umbi-umbian.
Karakteristik akar tunggang:
- Tumbuh dari bagian bawah batang, menonjol keluar
- Menancap dalam dan kuat
- Menahan pohon dari angin, tekanan air, dan pergerakan tanah
- Menyimpan air dalam jumlah besar
Akar tunggang inilah yang membuat pohon-pohon hutan bisa berdiri kokoh puluhan tahun, sekaligus menjaga struktur tanah hingga ke lapisan dalam. Hutan dengan akar tunggang pada dasarnya bekerja seperti penopang alami yang menyerap air hujan, menahan longsor, memperlambat aliran air ke sungai, hingga menjaga debit air tetap stabil.
Hubungan Jenis Akar dengan Banjir
November lalu, banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Sumatera bukanlah kejadian tiba-tiba. Salah satu faktor penyebabnya adalah hilangnya tutupan hutan yang diganti dengan perkebunan sawit. Ini bukan berarti sawit itu buruk, tapi lebih pada fakta bahwa sawit dan pohon hutan punya fungsi ekologis yang sangat berbeda.
Jika dibandingkan secara sederhana:
Hutan: Akar tunggang dan akar dalam lain mencengkeram tanah kuat, menyerap air hujan, dan mengurangi aliran permukaan.
Perkebunan sawit: Akar serabut menyebar hanya di lapisan atas, tak mampu menahan tekanan air besar saat curah hujan ekstrem.
Jadi, ketika hujan deras turun terus-menerus di daerah yang banyak kehilangan hutan:
- Tanah di bekas hutan kehilangan penyangga akar tunggang.
- Air hujan tidak terserap secara optimal.
- Tanah mudah tergerus dan terbawa ke sungai.
- Sungai meluap lebih cepat.
- Terjadilah banjir bandang.
Dalam konteks Sumatera, hal ini bukanlah cerita baru. Daerah yang dulunya hutan lebat kini banyak berubah menjadi kebun monokultur sehingga ketahanan ekologis pun menurun.
![]() |
| Pasca banjir di Aceh 2025 yang menyisakan tumpukan kayu gelondongan (Pict : Antara/Erlangga BP) |
Kenapa Kita Perlu Peduli?
Jadi, perbedaan akar serabut dan akar tunggang bukan cuma pelajaran biologi, tapi juga soal masa depan lingkungan hidup dan keselamatan manusia.
Beberapa dampak kehilangan hutan alami:
- Banjir lebih sering dan lebih parah
- Longsor mudah terjadi
- Sungai cepat dangkal karena sedimentasi
- Ekosistem lokal rusak
- Hewan-hewan terusir dari habitatnya
- Masyarakat di hilir terkena dampaknya.
Perkebunan sawit memang tetap diperlukan sebagai komoditas ekonomi. Namun, alih fungsi lahan yang tidak terkendali membuat keseimbangan alam jadi terganggu. Yang hilang bukan hanya pohon, tapi juga “sistem penopang alami” yang sudah bekerja ratusan tahun.
Penutup
Memahami perbedaan akar serabut dan akar tunggang jadi dasar untuk bisa paham kenapa perubahan lanskap alami dapat memicu bencana. Ketika hutan dengan pohon-pohon berakar tunggang ditebang dan diganti dengan sawit yang hanya memiliki akar serabut, kita secara tak langsung melemahkan daya tahan tanah terhadap air.
Banjir bandang di Sumatera seyogyanya jadi alarm keras bahwa kita harus lebih bijak mengelola alam. Reboisasi, pelestarian hutan, dan pengaturan ulang tata guna lahan perlu terus dilakukan. Karena pada akhirnya, yang kita jaga bukan hanya tanah atau pohon saja, tapi juga kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup yang tinggal di sekitarnya.
***
Pict : Canva





0 comments: